Rabu, 15 Januari 2014

Melody of LOVE

Asrama Nurul Asri yang berada di pinggir kota memiliki suasana yang tenang dan udara yang sejuk karena di kelilingi lahan yang belum terjamah manusia. Siswa yang berada di sini lebih dari 1000 orang dan berbeda agama, namun disinilah keunggulannya. Belajar untuk saling menghargai dan menyayangi kepada sesama lewat perbedaan yang ada.
                Setiap siswa di bagi 1 kamar 10 orang dan pastinya tidak pencampuran gender untuk soal itu. Laki – laki ada di gedung sebelah kanan dari gedung perempuan dan gedung ini saling berhadapan. Jangan harap siswa bebas berkeliaran pada saat malam hari !.
                “ Put kamu duluan aja, aku mau ke perpus ambil beberapa buku buat tugas kita “ ucap Sabrina dan di sambut anggukan Putri. Perpustakaan yang berada tidak jauh dari kamar mereka memiliki fasilitas yang cukup untuk membangkitkan semangat para siswa untuk sekedar masuk dan melihat ruangan ini. Rak Pengetahuan sudah menjadi tujuan Sabrina dari Awal. Disapukannya ujung jemarinya mencari judul buku yang ia cari di deretan buku yang tersusun rapi. Sebenarnya bisa saja ia mencari di mesin fiche namun menurutnya itu hanya untuk anak manja.
                “ Lo cari ini ? “ Suara berat itu datang dari arah yang berlawanan mengagetkan Sabrina. Secepat kilat Sabrina menoleh ke arah lawan bicaranya. Ia menyipitkan mata memperhatikan benda yang ada di tangan laki – laki itu. Benar saja itu buku yang di carinya. Sial ! Sabrina mendesah keras . Ia melipat tangan di depan dadanya. Keningnya berkerut dalam hati yang menggerutu dan mengumpat.
                “ lo pasti kesel sama gue kan ? ambil aja ini… gue belum selesai sih Cuma kasihan liat lo nyari gitu kayak nenek bongkok “ ejeknya seraya melempar buku ke arah Sabrina dan jatuh di tepat di depan gadis tinggi itu. Sabrina memungut buku itu, “ Gue gak butuh rasa kasihan dari orang kaya elo tuan Allan dan satu hal yang elo wajib tau hargai buku !” ucapnya tegas seraya meletakkan buku di atas rak “ Elo ambil dan elo kembalikan sesuai urutannya ! “ lanjutnya seraya berlalu meninggalkan laki – laki yang sedang menatapnya heran.
                Dengan sekali hentakan keras Sabrina membuka pintu kamar dan menganggetkan Putri yang sedang menemani Ayu. “ Ancur deh tu pintu kalau Sabrina buka pintu kayak gitu “ ucap Ayu terlebih pada dirinya sendiri “ kali ini Allan ngapain lo lagi ? “ tanyanya sambil menyilangkan kaki  di atas tempat tidur. “ Kamu juga ngapain marah sih Sabrina… cuek aja “ nasehat Putri. Tapi yang di tanya masih diam tak bergeming.
                “ bentar lagi dia pasti nangis…”
                “  Satu…”
                “ Dua…”
                “ Ti…”
                Benar aja gadis itu menangis memeluk guling. Ayu dan Putri hanya bisa tersenyum sedih melihat tingkah gadis yang sedang di alami kegalauan akut. “ yang bener aja gue gak bisa ngelupain dia ! kenapa coba gue dulu nerima dia jadi pacar dia dan gue percaya sama dia !” kesal Sabrina terlebih pada dirinya sendiri.
                “ terus lo mau minta balikkan ?”
                “ bukan gitu ! gue cuma…”
                “ kamu cuma masih merasa penting di dekat dia ?”
                “ gak ! aku gak mikir gitu tapi… “
                Ayu dan Putri mendesah “ cuma rasa sayang ini terlanjur ada, tapi gak mungkin tetap ada di dekatnya karena gak tahan sama sakit dan pahitnya rasa ini “ ucap mereka melanjutkan semua kata – kata Sabrina yang  belum selesai. Sabrina hanya diam. Ia menghapus air matanya dan bersungut kepada kedua sahabatnya “ berhentilah sok kompak buat ngeledekin gue “.

***
                Kelas Mr. Walker adalah kelas yang paling di segani oleh semua murid. Laki – laki yang belum bisa di bilang tua, memiliki gaya bicara inggris yang kental dengan aksen UKnya yang bisa di jamin gak akan mudah di pahami serta model rambutnya yang masih mengikuti zaman membuatnya tak lekang oleh waktu. “ jadi apa kalian telah menyelesaikan  scientific work yang saya berikan minggu lalu ? “ tanyanya dengan aksen inggrisnya. Semua murid diam.
                Pria itu melepas kacamatanya dan mendesah keras “ saya tau… sangat tau ada beberapa yang mengerjakan tugas ini…” matanya melirik ke arah Sabrina, Putri dan Ayu “ tapi mau sampai kapan kalian seperti ini ? kalau begitu… “ kata – katanya terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kelas. Semua perhatian tertuju kearah laki – laki tinggi, bermuka oriental, berambut gelap dan memiliki senyum yang cerah.
                “ Sorry sir… eum saya murid baru dan saya di suruh kemari “ jawabnya yang mengerti akan arti tatapan Mr. Walker yang tidak suka kelasnya di ganggu. Mr. Walker hanya mengangguk dan menunjuk satu kursi di sebelah gadis berambut ikal yang sedang mengetik di laptop kesayangannya dan tidak menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Dengan cepat laki – laki itu menduduki kursi yang telah di tunjuk Mr. Walker.
                “ Hai… gue Dimas” ucapnya pelan seraya meletakkan tasnya di meja.
                “ oh hai Dim.. “ alis gadis itu terangkat.  Dimas hanya tersenyum menunggu lanjutan kata – kata gadis itu “ maaf aku gak inget kalau sebelah aku ada orang ?” tanya gadis itu bingung. Dimas hanya tersenyum membiarkan gadis itu larut dalam kebingungannya sementara dia memperhatikan laki – laki yang sedang berbicara di depan kelas.

***
                Jari – jari itu menari indah di atas tuts piano. Menciptakan alunan melody yang dalam dan membuat siapapun tau bahwa pemilik jari indah itu sedang bersedih. Semua bayangan Rehan berkelebat dalam benaknya. Rasa nyeri di dadanya semakin membuatnya ingin membunuh laki – laki yang selama ini ia percayai.
                Nada yang mengalun semakin berantakan. Ayu memukul tuts – tuts piano kesal. Entah kenapa semua rasanya salah bahkan lagu beethoven kesukaannya juga salah ia mainkan saat ini. Ia mengepalkan tangannya dan menangis tanpa suara. Sebuah tanda tanya besar yang tertinggal membuat dadanya terasa sesak. “ Ayu ? “ panggil seseorang. Dengan sekali gerak Ayu melihat laki – laki yang ada dalam bayangannya keluar dan menjadi nyata.
                Ayu melihat kilatan rasa bersalah dalam mata coklat laki – laki itu.
                “ aku tau… kemarin kejadian yang… gak bisa kamu maafin…”
                Bagus kalau lo tau dan sekarang pergi !
                “ aku gak akan pergi sebelum kamu maafin… aku – aku masih sayang sama kamu “
                Gak akan pernah dan gak akan terjadi walaupun lo sujud !
                Rehan berlutut di depan Ayu “ apa yang harus aku lakukan yu…”
                Ayu membelalakan matanya. Apa laki – laki ini mampu mendengar isi hatinya. Ayu menggigit bibir menahan air mata yang siap meluncur dan membuatnya terlihat lemah. “ Yu tolong bicara… aku butuh jawaban… “ lanjut Rehan yang menjawab pertanyaan Ayu.  “ aku tau aku bukan perempuan yang kamu inginkan dari awal… aku.. aku hanya pelampiasan “ Ucap Ayu membuat Rehan menahan nafasnya. Merasa Rehan tidak akan menyangkal Ayu melanjutkan. “ pelampiasan dari segala rasa gengsi karena gadis yang sebenarnya kamu incar udah ada yang lain “.
                Ayu mengepalkan tangannya berjaga – jaga kalau Rehan berbuat kurang ajar. Ayu melirik laki – laki yang masih berlutut di depannya. Mata coklat itu menatap matanya lurus – lurus seperti mencari kata maaf untuk dirinya. “ sekarang pergilah !” minta Ayu.
                “ tapi Yu… aku… aku “
                “ pergi ! tolong kalau elo masih sayang sama gue !”
                Rehan mengangguk pelan dan pergi dengan enggannya. Ayu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengejar dan memeluk laki – laki itu. Perasaan lega membanjiri dirinya. Ia melepaskan nafas yang sedari tadi Ia tahan ketika laki – laki itu menghilang.

***
                Cahaya lembut matahari yang menembus jendela besar menambah kedamaian kelas yang sedang di tinggal penghuninya untuk mengisi kelas lain. Gadis itu sibuk dengan novel yang membuatnya tidak sadar ada seseorang yang berusaha menarik dirinya dari dunia khayalan.
                “ Putri ? “ ucap seseorang menyentuh pundaknya lembut dan membuat gadis yang di maksud terkejut. “ eum maaf aku.. aku gak denger “ ucapnya salah tingkah memandangi laki – laki tinggi yang sedang tersenyum padanya “ aku yang minta maaf udah ganggu kamu aku cuma mau tanya tentang biola.. “. “ kamu menemui orang yang tepat “ ucap Putri bangga.
                “ aku tahu… dan sangat tahu “ gurau laki – laki itu. Putri tertawa namun seketika tawanya hilang dan menatap laki – laki itu bingung “ sebentar… kita gak pernah sekelaskan ? kamu siapa ? “.
                Laki – laki itu hanya tertawa. Putri terdiam melihat laki – laki itu tertawa. Mungkin matanya mulai salah melihat seolah – olah laki itu di penuhi effect yang menyilaukan matanya. Jantungnya mulai ikut tidak beres. Putri memegang dadanya takut – takut jantungnya lepas.

                “ jadi kamu bener – bener gak denger ? aku Galih dari asrama 2 “ jawabnya mengulurkan tangan. Dengan segera Putri menyambut uluran tangan itu. “ aku baru semester ini aja ambil kelas musik makanya aku ada disini”. Putri hanya mengangguk dan masih sibuk dengan pikirannya.

Senin, 30 Desember 2013

3 bulan untuk SELAMANYA

Lagi – lagi gadis itu hanya melamun.  Hujan malam ini membuat secangkir teh hangat menjadi pilihan paling tepat. Meila Hanafi hanya mengaduk tehnya sambil memandang keluar jendela. Memperhatikan setiap tetes hujan yang jatuh ke bumi. “ Kamu tahu melamun itu bisa membuat seseorang menjadi gampang latah “ ucap seseorang yang berhasil menarik perhatian Meila. Meila memperhatikan gadis berkacamata dan model rambutnya bob berwarna coklat yang sangat ia kenalin.
“Memang kamulah Vanya aku gak habis pikir kadang – kadang buku yang kamu baca ada gunanya juga ya” canda Meila sambil menyeruput tehnya. Vanya Agustina hanya tersenyum sambil meminum kopinya.
“Habis dari perpustakaan ya ?” tanyanya melihat tumpukan buku dibawah meja sebelah kaki Vanya.” Yap ! Seratus buat kamu ha ha ha” jawabnya sambil berpura-pura tertawa “ yang benar saja tugas kuliah gak ada habisnya mana bukunya gak lengkap lagi”lanjutnya sambil menyuap sup jagungnya.
“Tahu gak ? ada yang nempatin kamar sebelah kamar kita loh” ucap Vanya tiba-tiba. Meila hanya menopang dagu tersenyum “ oh iya ? siapa ? pasti cewek lagi ?” tanyanya sekedar nimbrung dalam pembicaraan ini.“Kurang tahu sih, tapi kata Mbak Inah laki – laki” jawabnya sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Meila hanya tersenyum. Dia tidak bisa membayangkan siapa dan bagaimana orang yang menempati kamar kost disebelah kamarnya. Setidaknya pada malam hari tidak menjadi terlalu menakutkan.
“ Aku berani bertaruh laki – laki ini gak lajang lagi alias udah om – om “gumam Vanya sambil mengelap bibirnya dengan tissue. Melia mengerenyitkan dahi menatap sahabatnya “ kamukan kuliah di sastra korea kok mendadak jadi peramal ? “ tanyanya sambil menyeruput tehnya kembali.
“ Ya ampun Mel bukan apa lho. Itukan udah fakta yang biasa terjadi “
“ Iyaya deh ikut aja apa kata kamu. Tapi kalau lajang dan ganteng buat aku ya ? “
“ Enak aja ! aku juga mau kali.. bagi – bagi napa Mel, gitu banget “
Melia masih tersenyum melihat tingkah teman yang ada di hadapannya ini. Sebenarnya ganteng atau gak juga gak akan pernah jadi urusan Melia. Itu bukan sebuah jaminan atas keselamatan dirinya, hanya itu yang Melia tau. “ Penasaran nih.. balik yuk biar jelas dia om –om atau lajang ganteng yang kita bayangin “ ajaknya tergesa – tergesa membawa buku dan menarik tangan Melia.

***
                Jam terus berputar tanpa memperdulikan ada atau tidak yang mengejarnya untuk memintanya berhenti. Udara dingin dan suara rintik hujan cukup mendukung untuk bermalasan – malasan di tempat tidur. Pelan tapi pasti semua organ tubuh memberontak jika terlalu lama di biarkan memaksakan mata yang terlelap untuk terbuka dan melihat jam.
                Tangan yang masih enggan bergerak berusaha bergerak ke udara. Aditya Wiratmaja segera terbangun ketika melihat jarum panjang di arlojinya. Sadar bahwa tidur cantiknya harus berhenti dan dia harus segera menelfon seseorang di Bandung. Dengan sigap jarinya menekan tombol angka 1 dan menunggu jawaban.
                “ Astaga Adit kamu lama sekali ngabarin mama. Kata kamu gak delay tapi kok baru jam segini kamu nelfon mama, mama khawatir sayang “ Marah perempuan paruh baya yang membuat Adit tersenyum. “ Maaf ma baru nelfon tadi ketiduran habis capek banget ma “ jawabnya menenangkan perempuan yang amat di sayanginya.
                “ jadi ini kamu udah di tempat mbak Inahkan ? “
                “ udah ma. Ini lagi di kamar mau beres – beres “
                “ iyaudah kamu kamu lanjut lagi ya beres – beresnya. Kalau misalnya ada apa – apa telfon mama ya “ mintanya dengan suara sedih di ujung sana, Adit tersenyum mengangguk seakan mamanya ada di hadapannya.
                Sebenarnya bukan tanpa alasan mamanya begitu khawatir terhadap dirinya dan bukan juga bukan karena dia anak mama. Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling baik dan inilah alasannya. Mama Adit takut jika terjadi hal yang sama dengan Almarhum abangnya dulu. Pengalaman yang  membuat seluruh keluarganya hancur dan kecewa sekaligus sedih kepada abangnya. Dan itu mengajarkan Adit untuk menjadi dewasa.
                Setelah telfonnya putus Adit melangkahkan kaki keluar kamar. Menurutnya tidak sopan tida memperkenalkan diri atau setidaknya dia perlu adaptasi dengan suasana sekitar. Saat membuka pintu layaknya seorang drakula yang takut terkena cahaya mata Adit terasa sakit ketika melihat cahaya lampu. Segera ia menutup pintu kamarnya baru ia sadar bahwa dia hidup layaknya di dalam gua, tanpa penerangan.
                Baru saja Adit akan menghidukan lampu dia mendengar suara perempuan yang mengomel dalam bahasa yang bercampur membuat Adit penasaran dan segera membuka pintu.

***
                Melia yang baru sampe di rumah mbak Inah harus terima sambutan yang cukup membuatnya menyesal menggunakan earphone yang membuatnya tergelincir dan mendaratkan bokongnya di lantai.“ aduh neng kan udah mbak panggil dari tadi jangan lewat dulu “ mbak Inah membantu Melia berdiri. “ A..aw gak papa kok mbak.. salah Mel gak denger, Mel langsung kamar ya mbak “ ucapnya sambil berusaha berjalan ke kamar menahan sakit di bokonnya.
                Dengan perlahan Melia menaiki tangga sambil menggigit bibir. Melia tidak mungkin manggil Vanya lagi yang kamarnya ada di daerah blok B teras belakang. “ Earphone sialan lo. Damn ! God this is very hurt !. untung Cuma mbak Inah yang liat kalo gak sumpah gue malu. Shit ! “. Dengan terus mengumpat Melia mencoba membuka pintunya namun dia di kagetkan dengan suara pintu yang terbuka di belakangnya. Dalam sekejap badan Melia mendadak pucat.
                “ Excuse me..”tanya laki – laki di belakangnya namun Melia tidak berani menjawabnya takut – takut itu bukan sesuatu ataupun seseorang yang ia kira. “ Maaf.. kamu gak.. gilakan ?” tanyanya lagi dan berhasil membuat Melia panas. “ GILA ?! LO PIKIR GUE GILA ?! DALAM HAL APA LO NUDUH GUE GILA ?”tanya Melia berapi – api sambil menunjuk laki – laki tinggi, berkulit putih, yang rambutnya agak acak – acakan ala orang baru bangun tidur dan brewokan yang sedang melihatnya bingung dan kaget.
                “ Sepele aja sih.. pertama elo tadi bicara dengan dua bahasa yang menurut gue amburadul parah dan elo ngomong sama pintu. Kedua elo gue panggil gak nyaut dan spesialnya gue panggil pake dua bahasa lagi. Kalah – kalah martabak telor gue buat” jawab Adit santai sambil menurunkan jari gadis di depannya ang sedang berapi – api nyaris mau terbakar.
                “ emang dasar penguntit lo ya… buat lo tau gue gak ngomong sama pintu ! “
                “ nah terus tadi ngapain ngumpat gak jelas sambil ngadep pintu ? “
                “gue lagi buka kunci kamar gue, lo gak liat kuncinya ?!” ucapnya sambil menunjuk gagang pintu. Aditpun ikut melirik namun alisnya terangkat heran sambil tertawa kecil.
                “ elo emang sakit… ampe gunung rata lagi sama tanah juga gak bakal kebuka kali “ Adit memgang kedua pundak Melia dan memutar badannya. “ nah.. see ? now can you say sorry to me ?” tanya Adit sambil tersenyum menang. Mata Melia terbelalak melihat gagang pintu yang tidak ada kuncinya.  Wajah Melia terasa panas  entah dia mau marah lagi atau malu karena sudah memarahi om – om yang ada di belakangnya sekarang. Dengan enggan Melia membalikkan badan menghadap om itu namun tangannya mencari kunci di tas.
                Adit masih tersenyum geli  melihat tingkah gadis yang telah dia permalukan. Setidaknya Adit hanya ingin balas dendam setelah di bentak gak jelas oleh orang yang gak di kenalanya sama sekali apalagi cewek itu udah cukup membuatnya jengkel. “ oke, gue minta maaf ya om “ seketika senyum Adit menghilang setelah mendengar kalimat pertama dari mulut gadis itu.
                “ gue maksudnya aku tau aku salah… mungkin karena aku kesel tadi om jadi ampe lupa”
                “ apa elo.. “
                “ iya aku tau om bahasa inggrisku amburadul. Om dosen ya ? maaf ya om.. sekarang om bisa balik ke kamar dan ….”
                “ bentar ! elo manggil apa gue barusan ? “
                “ gak salahkan om ? “ tanya Melia polos sambil tangannya berusaha membuka kunci pintu kamarnya. “ nah udah ya om saya minta maaf maaf banget ya ya ya ? daa om. Salam kenal “ ucapnya tersenyum simpul sambil masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya meninggalkan laki – laki yang berhasil di buatnya terpelongok akibat kata – katanya.

***

Melody of LOVE

“ Bukan itu yang ingin aku katakan bukan itu ! babo ! “ geram seseorang samar seraya menangis. Hujan tidak membuatnya berteduh seperti yang lain. Dingin yang menusuk badannya tidak di perdulikannya. Yang ia tau hanya menghilangkan rasa sakitnya.“ elo gak boleh kayak gini ! “ ucap seorang gadis tinggi yang berdiri di sampingnya. Perlahan Ayu menoleh melihat kedua sahabatnya memandanginya sedih bercampur takut.
                “ masuklah. Gue akan nyusul bentar lagi “ mintanya sambil memalingkan wajah.
                “ kita gak akan masuk tanpa kamu yu… kamu sakit kita juga harus sakit “ ucap Putri lembut duduk di depan Ayu.
                Ayu terdiam mengigit bibir bawahnya “ gue lagi pengen sendiri.. kali ini gue minta kalian ikut mau gue dan gue janji gue gak akan macem – macem “ lanjutnya.

                Putri mengalihkan pandanya kearah Sabrina berharap ikut membujuk Ayu. Sabrina menarik tangan Putri untuk berdiri “Don’t be forced again. This is not our right “ gumamnya masih memandangi gadis berkepang dua itu. “but ... he could be sick. Did you forget about her disease? “ tanya Putri khawatir.
                “ Kalo elo gak balik dalam 10 menit, piano lo gue bakar “ ancam Sabrina.
                “ dan kalo elo gak pergi dari sekarang laptop lo gue buang “ balas Ayu dingin.
                Sabrina tersenyum. “see? we had to trust her “ lanjutnya memegang pundak Putri. Putri ikut tersenyum benar kata Sabrina, mungkin mereka memang harus pelan tapi pasti mempercayai Ayu dengan kesalahan di masa lalunya. Kedua gadis itu meninggalkan Ayu sendiri.

                “ gue pikir gue gak akan pernah dapet momen kayak gini “ ucap seseorang yang berhasil membuat Ayu terkejut.  Laki – laki jangkung yang sedang berdiri sambil memayungi dirinya itu seseorang yang sangat tidak dia harapkan dan moodnya semakin hancur. “ Gio.. gue minta dengan sangat elo pergi deh “ ucap Ayu cuek. “ gak akan… walaupun kita musuhan dari zaman dinosaurus gue masih peka terhadap cewek gak terkecuali…“ kata – katanya terhenti ia jongkok di samping Ayu “ elo. Yah selama elo cewek walapun gue kesel setengah mampus. “ lanjutnya.

                Ayu hanya diam berusaha untuk tidak menanggapi ucapan laki – laki yang sedang ada di sampingnya membiarkan hujan membuat suasana di sekitarnya sedikit tenang. “ cukup kuat juga elo ya duduk di bawah pohon dalam hujan deres kayak gini… gue salut “ gumam Gio samar tapi masih terdengar jelas untuk Ayu. “ emang sikap keras kepala lo ini yang selalu buat gue kalah “ lanjutnya sambil memainkan payung.
                “ mau lo apa sih dateng kemari ? mau kasihani gue ? gue gak butuh ! “ ucap Ayu kesel seraya meninggalkan Gio namun kalah cepat dengan genggaman tangan Gio. “ gak. Gue kemari gak pengen kasihani lo, gak ada untungnya juga “ bantahnya santai seraya memasukkan tangan kanannya ke saku celananya.
                “ trus ? lo mau apa ? jangan macem – macem lo di sini atau gak… “ sambil menunjukkan kepalan tangan kanannya ke arah Gio.
                Laki – laki itu hanya tertawa sambil tertawa menurunkan kepalan tangan Ayu
                “ elo salah makan obat ya ? gak ada yang lucu !”
                “ elo yang lucu. Dari dulu. Cuma elo yang bisa buat gue seneng “
                Ayu terdiam. Wajahnya terasa memanas seketika mendengar ucapan aneh Gio. Ayu memandangi laki – laki yang selama ini dibencinya namun tidak bisa ia pungkiri Gio menemaninya selama ini sebelum Rehan datang. “ dasar playboy. mulut manis lo gak bakal mempan sama gue “ ejek Ayu sambil senderan di batang pohon memeluk tubuhnya sendiri. “ sebaiknya elo masuk… ini udah hampir 10 menit, bisa – bisa piano lo di bakar sama siapa si.. Sabrina “ kata – kata Gio mengingatkan Ayu soal ancaman Sabrina. “ Astaga gue lupa ! “ ucapnya seraya meninggalkan Gio namun lagi – lagi di tahan Gio dan menarik Ayu kedalam pelukannya. Ayu yang kaget hanya terdiam dalam pelukan laki – laki itu. Hangat hanya itu yang ia tau.
                “ sampe kamar elo mandi dan tidur. Jangan bandel. Dan lupain Rehan, tolong “ pinta Gio lembut dan terdengar samar namun semua itu jelas untuk Ayu walau hujan sederas apapun.


***

Narkoba ? Think again !

Narkoba bukanlah nama yang asing lagi didengar. Zat adiktif ini mampu memberi kesenangan dunia dan kesengsaraan juga. Tidak bisa dipungkiri lagi peredaran narkoba sangat cepat dan transparan, hanya dari satu orang ke satu orang cenderung berkelompok.
Narkoba sendiri memiliki banyak jenisnya seperti Heroin dan Kokain. Bentuknya juga banyak dan bervariasi seperti serbuk dan pil yang hampir menyerupai permen. Kita pernah mendengar bahwa anak SD terkena narkoba karena menerima permen dari seseorang yang tidak dikenalnya. Setelah di bawa ke laboratorium baru diketahui ternyata permen itu adalah narkoba.

Kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan ? hal ini sudah cukup membuktikan bahwa langkah aparat negara kurang cepat dari langkah para pengedar. 
Penyebaran narkoba dapat dicegah dengan bantuan keluarga dan pemerintah dan keluarga diharapkan menjadi perlindungan pertama dari bahaya narkoba, tapi jika dilihat lagi keluarga malah bisa menjadi pemicu atau penyebab seseorang menggunakan narkoba.
  • Fakta pertama adalah orang tua yang kurang menyediakan waktu untuk anaknya untuk berman atau sekadar menanyakan kabar. Hal ini dapat menyebabkan seorang anak mengalami rasa tidak percaya diri dan kurang perhatian yang menyebabkan seorang anak mencari kesenangan diri.
  • Fakta kedua keluarga yang mengalami broken home yang dapat membuat mental seorang anak menjadi lemah ditambah kedua orang tua yang saling melempar tanggung jawab yang tidak perduli terhadap anaknya sehingga menambah beban fisik dan mental anak.

Dalam hal ini, seorang anak tidak dapat disalahkan. Mereka hanyalah korban dari keegoisan semata. Namun, kita harus memberi arahan dan pertolongan jika memang sudah terlanjur bukan mengkuncilkannya.

Nilai keagamaan dan nilai kekeluargaan merupakan dua hal penting untuk membuat seorang anak terhindar dari narkoba.  Nilai keagamaan sendiri tidak hanya berpatok kepada pratek ibadahnya saja tetapi bagaimana nilai keimanan itu dapat menjadi pertahanan pertama selain keluarga. Nilai kekeluargaan menyangkut kepada bagaimana membuat keluarga adalah tempat yang nyaman dan aman bukan tempat yang asing dan menakutkan.

Kenyataan ini tidak dialami semua anak. Ada sebagian besar anak yang berhasil bertahan dari keadaan yang mampu membuat seseorang dilema. Disadari juga narkoba bukan pembenaran untuk tidak menerima kenyataan dan juga sebuah kompensasi untuk menyelesaikan masalah hidup.
Aku dan keluargaku sendiri mempunyai satu pemikiran yang sama bahwa broken home bukan akhir dari segalanya, masih ada masa depan yang lebih baik. Hidup ini hanya sekali dan tidak selamanya ada bantuan yang datang tanpa usaha. Keluargaku tak harmonis dan tak selalu ada. Pertahanan itu kembali pada diri sendiri. jatuh atau berdiri tegak ?.

Pemerintah juga tidak bisa diam dengan keadaan yang terus menciptakan korban. Sekuat apapun tekad dan usah yang dilakukan seseorang dalam hal melawan narkoba jika pemerintah hanya menganggap enteng masalah ini semuanya tidak akan menjadi arti.
Langkah yang dibuat pemerintah belum terbilang efektif. Hanya masih terus meluncurkan kampanye dan penyuluhan tentang narkoba. Lembaga penyuluhan dan tenaga yang ada pun masih kurang . Lembaga yang tersebar hanya ada di beberapa ibu kota yang masih susah dijangkau oleh penduduk yang berada di pedalaman. Pemerintah tidak boleh terus menutup mata bahwa para pengedar dan pemakai terus bertambah banyak setiap tahunnya. Luasnya jaringan yang terjalin yang mencapai hingga luar negeri membuat penyebaran narkoba lebih cepat dari informasi yang didapat pihak kepolisian sehingga pihak berwajib sering ‘kecolongan’  dalam hal menangkap sang pelaku.

Keluargaku tahu bahwa narkoba bukanlah teman melainkan musuh. Dilema pasti dirasa untuk anak yang mengalami broken home. Rasa ingin segera lari dari rasa sedih yang membebani dan mendapatkan kesenangan hal yang memicu seseorang melirik ke narkoba. Kalau kita mau berpikir jernih pasti ada cara untuk menghindari itu.
Pertama, bentengin diri. Jangan terlalu menyesali keadaan yang tidak akan pernah kembali. Ditambah beban mentali dari lingkungan yang mencap diri kita sebagai anak broken home. Saat hal ini terjadi kita berusaha untuk menjaga image kita di mata masyarakat.
Kedua, merencanakan langkah kedepan. Bukan langkah yang terlalu jauh, tapi langkah kta untuk menghadapi kenyataan sekarang dan nanti.

Jadikan broken home adalah awal dari kehidupan untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Ini adalah semangat positif yang harus aku dan keluargaku tanamkan dalam hati. Semangat itu harus tetap dijaga agar semngat negatif akan narkoba yang hanya menciptakan dunia semu dibuang jauh-jauh dari pemikiran dan hati.
Mulailah memerangi narkoba dari diri kita sendiri dan selalu diiringi dengan doa agar hidup didunia lebih berarti dan dapat dipertanggung jawabkan dihadapanNya.

Seharusnya kita sadar jika kita ingin akhir dari hidup kita senang sekarang adalah saatnya untuk kita unjuk gigi bahwa kita gak seperti penilaian banyak orang yang meanggap anak muda apalagi anak broken home itu cuma bisa dugem dan clubbing untuk lari dari masalah yang membuat kita kenalan sama yang namanya narkoba.

Minggu, 29 Desember 2013

Melody of LOVE

Suara alunan piano itu masih mengalir lembut dari ruangan auditorium. Alunan nada beethoven yang disambut indah alunan biola membuat ruangan itu menjadi magnet bagi orang – orang yang ingin melepas lelah mereka. Suara tepuk tangan riuh yang ditujukan untuk dua gadis yang membungkuk hormat dan tersenyum manis kepada mereka kecuali 1 orang.
“ Aku bosan mendengarkan alunan itu, sungguh “ ucap seorang gadis tinggi, berambut ikal mendekati mereka. “ iya kita juga gak butuh kok tepuk tangan dari kamu “ ejek gadis putih berkacamata seraya mencubit lengan gadis itu gemas. “ lagi pula kita main memang bukan untuk elo “ lanjut gadis manis berkepang dua sambil menutup pianonya. Sabrina hanya memperhatikan kedua sahabatnya ini.Putri dan Ayu. Mereka sempurna. Ituah dua kata yang bisa ia keluarkan saat itu.
so girls can we have lunch? My worms began to eat me” protes Sabrina sambil mengelus perutnya. “not for now. we have to do our scientific work before we killed Mr. Walker “ jawab Putri sambil mengambil tasnya. “ Girls ! bisa gak sih jangan pake bahasa inggris. Pusing gua dengernya !” dumel Ayu sambil berjalan keluar auditorium. “name can not describe someone's personality” gumam Sabrina dan Putri berbarengan mengikuti Ayu.
Namun langkah kaki mereka bertiga terhenti. Putri memegang pundak Ayu. “ Yu kenapa berhenti ? “ tanya Putri lembut. “ elo bisa liat sendiri put “ minta Sabrina menunjuk sesuatu di sudut ruangan. “apeun. jeongmal apeun ” gumam Ayu sambil menitikkan air mata. Pandangan tidak mampu beralih melihat Rehan bercumbu dengan gadis lain. Walaupun samar bukan berarti Ayu tidak mengenali laki – laki yang telah bersamanya selama 2  tahun ini.
naega babo balghyeojyeossseubnida. I ... naneun eoliseoggedo dangsin mal-eul deudji anh-assda”gumamnya dalam bahasa korea yang baru – baru ini dia gemari. Putri dan Zafira hanya terdiam bingung dan merasa kasihan dengan sahabatnya ini. Seketika Ayu menghapus air matanya dan berlari mendekati Rehan.
“ Ayu !” ucap Rehan terkejut
“ Hai… enak ciumannya ? maaf ya gue gak pernah ngasih gituan sama elo. Gua sadar kok mungkin ini salah satu alasan elo nantinya mutusin gue. “
“yu.. gak.. Ini  gak seperti yang kamu pikirkan “ Rehan berusaha menggapai tangan Ayu
“ udahlah elo gak usah khawatir .. sebelum elo katakan gue minta kita jadi temen aja ya. naneun dangsin-eul salanghabnida “ ucap ayu sambil menghapus air matanya dan berlalu meninggalkan Rehan dalam kebingungan. Sabrina dan Putri menyusul Ayu yang sudah berlari ntah kemana.


***

Sabtu, 12 Oktober 2013

Rainbow

“Tuhan jika ini yang terbaik buatku tolong mudah kan buatku…aku mencintainya…biarkan dia tersenyum tanpa aku di hidupnya….terima kasih atas waktu-waktu terindah dalam hidupku  sebelum aku pergi dan menutup mataku…”
-         For Someone  -

ketika kamu sedih…tegarlah tanpaku menenangkanmu..
ketika kamu senang…tersenyumlah tanpaku di sampingmu..
ketika kamu kecewa…bersabarlah tanpaku bantu..
karna aku…pasti akan bersamamu tanpa kamu tahu...
memberikan warna dalam hidupmu…agar kamu tetap menjadi…
pelangi dalam hidupmu…
 Dari temanmu
jung young moon
Itu surat dari siapa?
ah surat ini..ini surat terakhir yang kuterima darinya…saat aku baru bangkit dari kegelapanku..aku ingat suaranyaa tapi tidak tau wajahnya…aku berjanji dalam hidupku,ketika aku bisa melihat pertama kali yang ingin kulihat adalah wajahnya…wajah seseorang yang selalu menemaniku…menyemangatiku…di jugalah motivator saat aku ingin menyerah…aku sangat ingat sekali ketika dia datang mengulurkan tangannya padaku…

“annyeong…nuguseyo??”tanyanya dengan suara yang lembut
aku tidak mau menjawab..aku takut dia akan menyakitiku seperti yang lain…
”kamu…bisu ya?”tanyanya hati-hati
”ANIO!!”sanggahku,”trus siapa namamu?jonun young moon,jung young moon”ucapnya
”jonun..hyuk,lee hyuk jae..”jawabku agak ragu…

begitulah pertemuan kecil kami terjadi..aku mungkin akan sangat menyesal kalo aku  gak menerima uluran tangan hatinya…hahaha memang sangat kaku sekali…

Bagaimana setelah itu?apa dia juga ikut agak menjauh darimu?
ani..dia malah selalu datang kekamarku..dia mengupaskan apel dan membantu ku untuk menganbil apel…terkadang juga dia suka bernyanyi kecil…dia selalu menyanyikan lagu  DBSK-HOW CAN I…dan menceritakan hubungan dia dengan mantannya…

“deutji marasseoya hal yaegi oneul harujjeumeun itgo nawado johasseul jeonhwa malmuni makhineun yaegi eochapi nae maeumeun sanggwan eomneun yaegi eotteoke neoreul ijeulkka ijeuryeogo aereul sseobolkka dasi doragal sun eobseulkka amu maldo kkeonael suga eobseotdeon uri majimak yaegi…bagaimana apakah begitu bikin mual?”tanyanya malu
”ani..aku suka tapi tadi lagu siapa?aku baru tau darimu..”tanyaku sambil menggaruk kepalaku bingung
“aah..itu lagu DBSK judulnya HOW CAN I…itu lagu kesukaan ku..”jawabnya santai
”oh ya?memang apa makna lagu itu?”tanyaku semakin penasaran
”itu tentang sepasang kekasih…mereka berpisah..tapi namjanya tidak mau dan dia bertanya..bagaimana aku melupakan mu..andai di dunia ini ada namja seperti itu…”jawabnya agak lirih
”kenapa ingin sekali?ngomong-ngomong kemana  namja mu?”tanyaku hati-hati
”ntah..menurutku dunia ini akan semangkin idah jika semua namja seperti itu…namjaku?dia selingkuh…dia lebih memilih yeoja itu..hahahaha baguslah dia pergi..”
jawabannya saat itu sangat tenang dan senang seperti tidak ada kekecewaan yang mendalam…aku belajar banyak dengannya soal mengatasi kesedihan dan kekecewaan…berkat dia juga aku menyukai dan menghafal lagu itu..
Dan sekarang apa yang akan kamu lakukan?tapi,kenapa kamu begitu ingin melihat wajahnya…?apa kamu mencintainya?
hahahaha…aku ketangkap basah…ya aku mencintainya…yang ingin kulakukan adalah mencari tau dia dimana..dan jika berjumpa aku mau menyatakan perasaan ku dan akan bersamanya selalu…aku begitu ingat sekali saat aku memprotes keadaanku yang buta dia langsung memarahiku habis-habisan…

“kamu bukanlah apa kata orang!kamu berharga,kamu tau itu?kelahiranmu kedunia inilah yang menjadikanmu berharga dan tak ternilai!kamu ada dan hidup dan itu sudah cukup untuk memperjuangkan keadaanmu sekarang!jangan merasa rendah diri!aku yakin kamu akan melihat dunia lagi..jangan menyerah hyuk jae!”

hahaha…aku malu sekali jika mengingat keadaan itu…aku langsung terdiam memikirkan kata-katanya lalu aku berkata-kamu ini seorang dokter ya?-lalu dia tertawa dan bilang –aku pasien spesial yang ada disini detik ini untuk menemanimu-aku pun hanya tersenyum..aku jadi semangkin ingin melihat wajah dan senyumnya…

Bagaimana ketika jumpa dengannya kondisi fisiknya jauh lebih parah darimu…?
aku bukan manusia bodoh…aku sudah berfikir untuk tidak melihatnya hanya dari fisik…tapi,dari ketulusan hatinya yang udah menemaniku dan membantuku dalam kegelapan dan keterpurukan…aku tidak mau mebuang hatinya yang putih,lembut dan penuh dengan canda tawa…

Aku rasa kamu adalah namja yang dia cari…pernahkah kamu sedikit meraba wajahnya dan menerka…?
hemm…pernah pada saat itu aku berusaha menggambar wajahnya dalam benakku…yang aku tahu wajahnya pasti manis…itu saja…dan pastinya saat itu aku malu sekali ketika aku meminta itu padanya…

“young moon..bolehkan aku sedikit meraba wajahmu…aku akui aku sedikit penasaran dengan dirimu..aku kesal hanya bisa mendengar suaramu…”tanyaku takut
”boleh tapi aku ingatkan wajahku jelek dan tidak pantas dilihat hahahaha”

lalu dia langung menuntun tangan ku menunjukkan mata,hidung,pipi,dan bibirnnya…langsung tergambar di benakku dia manis…

Aah..pasti kamu takut membayangkan yang jelek pada dirinya…lalu saat kamu mau menjalani operasi mata apa dia  ada memberi pesan atau semangat untukmu…?
hahahaha…aku tidak mau dibilang pembohong..memang aku sempat memikirkan pastinya wajahnya amatlah aneh…namun semakin mengenalnya bayangan itu hilang…sungguh…saat operasi?dia hanya bilang-kamu pasti bisa,HWAITTING!kalo kamu takut kamu cuci aja otakmu dengan pikiran kamu pasti bisa!-berkat itulah aku jadi semangat untuk sembuh dan melihat wajahnya…

Ketika aku menyatakan perban matamu sudah bisa dibuka..apa yang ingin kamu lihat…?
ya ampun dokter…aku tidak akan merubah jawabanku…pastinya wajahnyalah yang ingin kulihat…hahahaha tapi….itu cuman mimpiku…

Hahaha…baiklah..seandainya bukan surat itu yang ada padamu tapi dia yang ada disini..bersamamu..bagaimana perasaanmu…?
mungkin…terbang keawan..yah aku akan loncat dan terbang keawan..karna aku telah melihat wajahnya…dan telah bersama dengannya tapi dengan mata yang mampu menyimpan gambaran wajahnya tanpa harus mengdengar suaranya saja…

Kalo saat kamu menyatakan perasaanmu dan dia menolaknya..apa yang kamu lakukan…?pilih mana…bunuh diri atau menangis tersedu-sedu?
tidaklah…aku hanya memiliki 2 tipe dalam percintaan…Sub-man dan Masosis….mungkin aku hanya bisa jadi penolong dia diam-diam..memperhatikan langkahnya tanpa dia tau dan aku juga bisa terus menyanyanginya walaupun dia membenciku atau mempunyai namja lain yang membuatku melukai diriku sendiri..

Ketauhilah hyuk..aku bukan ingin menyakiti perasaanmu…tapi,mata yang kamu gunakan itu adalah mata dari hasil donor mata punyanya…dia memintaku untuk mengambil matanya dan memmberikan padamu…dia hanya bilang-aku ingin hyukkie bisa melihat dunia dan tersenyum juga-…
kau bercanda?tolong jangan bercanda seperti itu…itu tidak membuatku tertawa…lalu dimana dia?

Mungkin sekarang bisa ku katakan. Jung young moon adalah pasien saya.dia menderita penyakit kanker stadium 2.dia ada dirumah sakit ini tapi dia melarangku untuk mengatakan keberadaannya padamu.aku ingat ketika dia bilang-mataku gak berguna untukku lagi..mungkin hyukkie lebih membutuhkan..dia masih perlu melihat betapa indahnya dunia-
katakan dimana dia!!aku tidak peduli walaupun dia sudah melarangmu dokter!!aku tidak mau melihatnya semangkin tersiksa..kenapa aku baru tau,kenapa??!!hh..hh kumohon dokter…

Mianhe hyuk…ini tanggung jawab saya. Mungkin kamu hanya bisa melihatnya jam 5 sore ini. Dia sering di taman rumah sakit..tapi berjanjilah untuk hanya melihatnya dari jauh…
apa?!!ani!apa guna ku melihat tapi tidak bisa bersamanya dan melihatnya..!cukup untuk berdiam diri dan tertawa diatas penderitaan yang dia tanggung selama ini hanya untuk menyemangatiku!

Kita tidak punya pilihan…dialah yang mempunya pilihan untuk memilih apa yang terbaik di hidupnya…dengarkan aku atau kamu akan menyakiti perasaannya..
baiklah..kali ini aku mengalah padamu..tapi maukah dokter menyampaikan suratku untuknya?hanya surat dok…hanya surat…

“Begitulah kejadiaannya bagaimana aku mengetahui keberadaan dan tentang dirimu..tapi aku berjanji akan ada disampingmu sampai akhir hayatku…
perasaan ku memamng sediki sakit mendengar keadaanmu…dokter benar…itu memang pilihanmu aku hanya bisa mendukungmu dangan segala keputusanmu…”
KAMU CURANG…
AKU GAK MAU SAAT AKU SEDIH KAMU GAK MENENANGKANKU…
AKU GAK MAU SAAT AKU SENANG KAMU GAK DI SAMPINGKU…
AKU TIDAK MAU SAAT AKU KECEWA KAMU TIDAK MENGHIBURKU..
AKU JUGA AKAN PASTI BERSAMAMU…
AKU SUDAH BISA MELIHAT DUNIA TAPI GAK ADA KAMU SEBAGAI PELANGI KEINDAHAN DUNIA INI….
AKU JUGA MAU MEMBERI WARNA DALAM HIDUPMU DAN MENJADI PELANGIMU…SAAT INI PELANGI DIHIDUPKU HILANG..KARNA GAK ADA KAMU..


DARI TEMANMU YANG MENYAYANGIMU
LEE HYUK JAE

Selasa, 01 Oktober 2013

Rain

Payung putih itu selalu ada di taman setiap kali hujan datang. Gadis itu hanya melamun, seperti menunggu sesuatu tapi tidak pernah datang. Hujan seperti menggambarkan hatinya. Sabrina yakin laki-laki itu pasti datang menemuinya walaupun sudah 3 tahun lamanya ia menunggu.
“Berhentilah untuk menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang”ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan gadis itu. “aku… aku tidak menunggunya. Aku hanya malas dirumah. “jawabnya sambil tersenyum kecil kepada laki-laki jangkung yang sedang memperhatikan dengan kacamatnya.
“kau mencoba membodohiku ? haha tidak berhasil”.
“aku tidak membodohimu, sungguh aku memang bosan dirumah”.
“Aku bukan anak kecil yang akan percaya begitu saja dengan omonganmu. Keponakanku lebih pintar daripada dirimu ternyata”.
Sabrina tertawa kecil namun dia tidak bisa mengelak lagi. Trian memang bukan baru mengenal dia 1 hari, 1 bulan, bahkan 1 minggu. Mereka sudah selayaknya abang dan adik yang saling membantu dan menyayangi satu sama lain. Trian hanya bisa menghela nafasnya sambil memutar-mutar payungnya “ sampai kapan seperti ini ? gak capek apa, selalu kamu yang menelfoninnya meminta maafnya padahal kamu gak salah. Sekarang kamu malah menunggunya dan berharap dia berubah. Sampai bumi ini balik ke zaman dinosaurus lagi pun gak akan mungkin”.
“Setidaknya aku sudah bersikap sebagai seorang kekasih. Aku tidak perduli tentang harga diriku sebagai perempuan, mungkin dia senang menjadi ‘perempuan’ yang selalu dibujuk salah atau tidak salah dirinya”. Sabrina diam merasa air matanya akan mengalir “ dan jika aku menunggunya sekarang…  aku menunggu jawaban tentang diriku” lanjutnya.
“ Jadi setelah 3 tahun, kalian masih gantung ?”tebak Trian memandang Sabrina berharap tebakannya salah ternyata Sabrina mengangguk dan tersenyum. Trian tertawa kecil mengacak rambut adik kelasnya ini “aku ingin menjulukimu si bodoh tapi kamu gak sebodoh itu. Kamu tahu bahwa kasih sayang itu harus tulus , tapi lagi-lagi kamu yang harus sengsara karena cinta”.
“Cinta itu seperti cuaca. Ketika cuacanya hangat ,mampu menghangatkan siapapun tapi ketika cuacanya dingin… itu mampu juga membuat siapapun pergi”.
Trian hanya tertegun mendengar kata-kata Sabrina. Entah apa yang ada dipikiran Andik sehingga dia tega memperlakukan adiknya seperti ini. Berjuta pertanyaan berputar mengelilingi otaknya, apa alasan Andik ? wanita lain, udah bosan, atau adik ku yang berkhianat ? gak mungkin.
“Jika aku jadi Andik mungkin aku akan terus bersyukur telah mendapatkan perempuan sepertimu. Yang selau perhatian, menanyakan kabar, perduli tentang hubungan kita dan diriku dan selalu cemburu walau sebenarnya gak perlu cemburu” Trian diam memperhatikan Sabrina yang mulai menangis “ Andik bodoh” lanjutnya. Sabrina hanya diam, hatinya terasa seperti dicengkram seperti disadarkan bahwa sikapnya itu banyak dinilai posesif.
“Kalau aku mati nanti cuacanya hujan, kamu mau panggil pawang hujan suruh bikin cerah ?”
“Ngapain manggil pawang hujan, Andik datang hujannya udah lari” Trian terdiam “ tapi aku tidak akan membiarkan laki-laki itu mendekati makammu bahkan gerbang pemakaman.”
“Biarkan aja dia datang. Biar dia lihat batu nisan ku dan sadar  bahwa gak ada lagi perempuan yang akan menelfoninnya, mengganggunya dan mengusiknya”.
Setelah itu hanya ada suara hujan yang terdengar. Trian tahu seharusnya dia tidak menanggapi permintaan adiknya itu, tapi jika Trian pun diposisinya mati adalah cara terbaik untuk menghilangkan sakit hati karena terjatuh di lubang yang sama.
“Tapi aku masih percaya bahwa masih ada laki-laki sebaik dirimu yang masih butuh perempuan seperti aku” ucap Sabrina yang membuat Trian tersenyum “ suatu penghargaan buatku”.


Ini adalah kisahku. Dimana aku hanya selalu merasakan pahit disetiap perbuatanku yang berharap balasan yang indah.
Tuhan jika ini yang terbaik buatku tolong mudah kan buatku…aku mencintainya…biarkan dia tersenyum tanpa aku di hidupnya. Terima kasih atas waktu-waktu terindah dalam hidupku  sebelum aku pergi dan menutup mataku.
This is just for you

Mr. 2325