Narkoba bukanlah nama yang asing lagi didengar. Zat adiktif
ini mampu memberi kesenangan dunia dan kesengsaraan juga. Tidak bisa dipungkiri
lagi peredaran narkoba sangat cepat dan transparan, hanya dari satu orang ke
satu orang cenderung berkelompok.
Narkoba sendiri memiliki banyak jenisnya seperti Heroin dan
Kokain. Bentuknya juga banyak dan bervariasi seperti serbuk dan pil yang hampir
menyerupai permen. Kita pernah mendengar bahwa anak SD terkena narkoba karena
menerima permen dari seseorang yang tidak dikenalnya. Setelah di bawa ke
laboratorium baru diketahui ternyata permen itu adalah narkoba.
Kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan ? hal ini
sudah cukup membuktikan bahwa langkah aparat negara kurang cepat dari langkah
para pengedar.
Penyebaran narkoba dapat dicegah dengan bantuan
keluarga dan pemerintah dan keluarga diharapkan menjadi perlindungan pertama dari
bahaya narkoba, tapi jika dilihat lagi keluarga malah bisa menjadi pemicu atau
penyebab seseorang menggunakan narkoba.
- Fakta pertama adalah orang tua yang kurang menyediakan waktu untuk anaknya untuk berman atau sekadar menanyakan kabar. Hal ini dapat menyebabkan seorang anak mengalami rasa tidak percaya diri dan kurang perhatian yang menyebabkan seorang anak mencari kesenangan diri.
- Fakta kedua keluarga yang mengalami broken home yang dapat membuat mental seorang anak menjadi lemah ditambah kedua orang tua yang saling melempar tanggung jawab yang tidak perduli terhadap anaknya sehingga menambah beban fisik dan mental anak.
Dalam hal ini, seorang anak tidak dapat disalahkan. Mereka
hanyalah korban dari keegoisan semata. Namun, kita harus memberi arahan dan
pertolongan jika memang sudah terlanjur bukan mengkuncilkannya.
Nilai keagamaan dan nilai kekeluargaan merupakan dua hal
penting untuk membuat seorang anak terhindar dari narkoba. Nilai keagamaan sendiri tidak hanya berpatok
kepada pratek ibadahnya saja tetapi bagaimana nilai keimanan itu dapat menjadi
pertahanan pertama selain keluarga. Nilai kekeluargaan menyangkut kepada bagaimana
membuat keluarga adalah tempat yang nyaman dan aman bukan tempat yang asing dan
menakutkan.
Kenyataan ini tidak dialami semua anak. Ada sebagian besar
anak yang berhasil bertahan dari keadaan yang mampu membuat seseorang dilema. Disadari
juga narkoba bukan pembenaran untuk tidak menerima kenyataan dan juga sebuah kompensasi
untuk menyelesaikan masalah hidup.
Aku dan keluargaku sendiri mempunyai satu pemikiran yang
sama bahwa broken home bukan akhir dari segalanya, masih ada masa depan yang
lebih baik. Hidup ini hanya sekali dan tidak selamanya ada bantuan yang datang
tanpa usaha. Keluargaku tak harmonis dan tak selalu ada. Pertahanan itu kembali
pada diri sendiri. jatuh atau berdiri tegak ?.
Pemerintah juga tidak bisa diam dengan keadaan yang terus menciptakan
korban. Sekuat apapun tekad dan usah yang dilakukan seseorang dalam hal melawan
narkoba jika pemerintah hanya menganggap enteng masalah ini semuanya tidak akan
menjadi arti.
Langkah yang dibuat pemerintah belum terbilang efektif.
Hanya masih terus meluncurkan kampanye dan penyuluhan tentang narkoba. Lembaga
penyuluhan dan tenaga yang ada pun masih kurang . Lembaga yang tersebar hanya
ada di beberapa ibu kota yang masih susah dijangkau oleh penduduk yang berada
di pedalaman. Pemerintah tidak boleh terus menutup mata bahwa para
pengedar dan pemakai terus bertambah banyak setiap tahunnya. Luasnya jaringan
yang terjalin yang mencapai hingga luar negeri membuat penyebaran narkoba lebih
cepat dari informasi yang didapat pihak kepolisian sehingga pihak berwajib
sering ‘kecolongan’ dalam hal menangkap
sang pelaku.
Keluargaku tahu bahwa narkoba bukanlah teman melainkan
musuh. Dilema pasti dirasa untuk anak yang mengalami broken home. Rasa ingin
segera lari dari rasa sedih yang membebani dan mendapatkan kesenangan hal yang
memicu seseorang melirik ke narkoba. Kalau kita mau berpikir jernih pasti ada
cara untuk menghindari itu.
Pertama, bentengin diri. Jangan terlalu menyesali keadaan
yang tidak akan pernah kembali. Ditambah beban mentali dari lingkungan yang mencap
diri kita sebagai anak broken home. Saat hal ini terjadi kita berusaha untuk
menjaga image kita di mata masyarakat.
Kedua, merencanakan langkah kedepan. Bukan langkah yang
terlalu jauh, tapi langkah kta untuk menghadapi kenyataan sekarang dan nanti.
Jadikan broken home adalah awal dari kehidupan untuk
menggapai masa depan yang lebih baik. Ini adalah semangat positif yang harus
aku dan keluargaku tanamkan dalam hati. Semangat itu harus tetap dijaga agar
semngat negatif akan narkoba yang hanya menciptakan dunia semu dibuang
jauh-jauh dari pemikiran dan hati.
Mulailah memerangi narkoba dari diri kita sendiri dan selalu
diiringi dengan doa agar hidup didunia lebih berarti dan dapat dipertanggung
jawabkan dihadapanNya.
Seharusnya kita sadar jika kita ingin akhir dari hidup kita
senang sekarang adalah saatnya untuk kita unjuk gigi bahwa kita gak seperti
penilaian banyak orang yang meanggap anak muda apalagi anak broken home itu
cuma bisa dugem dan clubbing untuk lari dari masalah yang membuat kita kenalan sama
yang namanya narkoba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar