Senin, 30 Desember 2013

Narkoba ? Think again !

Narkoba bukanlah nama yang asing lagi didengar. Zat adiktif ini mampu memberi kesenangan dunia dan kesengsaraan juga. Tidak bisa dipungkiri lagi peredaran narkoba sangat cepat dan transparan, hanya dari satu orang ke satu orang cenderung berkelompok.
Narkoba sendiri memiliki banyak jenisnya seperti Heroin dan Kokain. Bentuknya juga banyak dan bervariasi seperti serbuk dan pil yang hampir menyerupai permen. Kita pernah mendengar bahwa anak SD terkena narkoba karena menerima permen dari seseorang yang tidak dikenalnya. Setelah di bawa ke laboratorium baru diketahui ternyata permen itu adalah narkoba.

Kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan ? hal ini sudah cukup membuktikan bahwa langkah aparat negara kurang cepat dari langkah para pengedar. 
Penyebaran narkoba dapat dicegah dengan bantuan keluarga dan pemerintah dan keluarga diharapkan menjadi perlindungan pertama dari bahaya narkoba, tapi jika dilihat lagi keluarga malah bisa menjadi pemicu atau penyebab seseorang menggunakan narkoba.
  • Fakta pertama adalah orang tua yang kurang menyediakan waktu untuk anaknya untuk berman atau sekadar menanyakan kabar. Hal ini dapat menyebabkan seorang anak mengalami rasa tidak percaya diri dan kurang perhatian yang menyebabkan seorang anak mencari kesenangan diri.
  • Fakta kedua keluarga yang mengalami broken home yang dapat membuat mental seorang anak menjadi lemah ditambah kedua orang tua yang saling melempar tanggung jawab yang tidak perduli terhadap anaknya sehingga menambah beban fisik dan mental anak.

Dalam hal ini, seorang anak tidak dapat disalahkan. Mereka hanyalah korban dari keegoisan semata. Namun, kita harus memberi arahan dan pertolongan jika memang sudah terlanjur bukan mengkuncilkannya.

Nilai keagamaan dan nilai kekeluargaan merupakan dua hal penting untuk membuat seorang anak terhindar dari narkoba.  Nilai keagamaan sendiri tidak hanya berpatok kepada pratek ibadahnya saja tetapi bagaimana nilai keimanan itu dapat menjadi pertahanan pertama selain keluarga. Nilai kekeluargaan menyangkut kepada bagaimana membuat keluarga adalah tempat yang nyaman dan aman bukan tempat yang asing dan menakutkan.

Kenyataan ini tidak dialami semua anak. Ada sebagian besar anak yang berhasil bertahan dari keadaan yang mampu membuat seseorang dilema. Disadari juga narkoba bukan pembenaran untuk tidak menerima kenyataan dan juga sebuah kompensasi untuk menyelesaikan masalah hidup.
Aku dan keluargaku sendiri mempunyai satu pemikiran yang sama bahwa broken home bukan akhir dari segalanya, masih ada masa depan yang lebih baik. Hidup ini hanya sekali dan tidak selamanya ada bantuan yang datang tanpa usaha. Keluargaku tak harmonis dan tak selalu ada. Pertahanan itu kembali pada diri sendiri. jatuh atau berdiri tegak ?.

Pemerintah juga tidak bisa diam dengan keadaan yang terus menciptakan korban. Sekuat apapun tekad dan usah yang dilakukan seseorang dalam hal melawan narkoba jika pemerintah hanya menganggap enteng masalah ini semuanya tidak akan menjadi arti.
Langkah yang dibuat pemerintah belum terbilang efektif. Hanya masih terus meluncurkan kampanye dan penyuluhan tentang narkoba. Lembaga penyuluhan dan tenaga yang ada pun masih kurang . Lembaga yang tersebar hanya ada di beberapa ibu kota yang masih susah dijangkau oleh penduduk yang berada di pedalaman. Pemerintah tidak boleh terus menutup mata bahwa para pengedar dan pemakai terus bertambah banyak setiap tahunnya. Luasnya jaringan yang terjalin yang mencapai hingga luar negeri membuat penyebaran narkoba lebih cepat dari informasi yang didapat pihak kepolisian sehingga pihak berwajib sering ‘kecolongan’  dalam hal menangkap sang pelaku.

Keluargaku tahu bahwa narkoba bukanlah teman melainkan musuh. Dilema pasti dirasa untuk anak yang mengalami broken home. Rasa ingin segera lari dari rasa sedih yang membebani dan mendapatkan kesenangan hal yang memicu seseorang melirik ke narkoba. Kalau kita mau berpikir jernih pasti ada cara untuk menghindari itu.
Pertama, bentengin diri. Jangan terlalu menyesali keadaan yang tidak akan pernah kembali. Ditambah beban mentali dari lingkungan yang mencap diri kita sebagai anak broken home. Saat hal ini terjadi kita berusaha untuk menjaga image kita di mata masyarakat.
Kedua, merencanakan langkah kedepan. Bukan langkah yang terlalu jauh, tapi langkah kta untuk menghadapi kenyataan sekarang dan nanti.

Jadikan broken home adalah awal dari kehidupan untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Ini adalah semangat positif yang harus aku dan keluargaku tanamkan dalam hati. Semangat itu harus tetap dijaga agar semngat negatif akan narkoba yang hanya menciptakan dunia semu dibuang jauh-jauh dari pemikiran dan hati.
Mulailah memerangi narkoba dari diri kita sendiri dan selalu diiringi dengan doa agar hidup didunia lebih berarti dan dapat dipertanggung jawabkan dihadapanNya.

Seharusnya kita sadar jika kita ingin akhir dari hidup kita senang sekarang adalah saatnya untuk kita unjuk gigi bahwa kita gak seperti penilaian banyak orang yang meanggap anak muda apalagi anak broken home itu cuma bisa dugem dan clubbing untuk lari dari masalah yang membuat kita kenalan sama yang namanya narkoba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar