Lagi – lagi gadis itu hanya
melamun. Hujan malam ini membuat
secangkir teh hangat menjadi pilihan paling tepat. Meila Hanafi hanya mengaduk
tehnya sambil memandang keluar jendela. Memperhatikan setiap tetes hujan yang
jatuh ke bumi. “ Kamu tahu melamun itu bisa membuat seseorang menjadi gampang
latah “ ucap seseorang yang berhasil menarik perhatian Meila. Meila
memperhatikan gadis berkacamata dan model rambutnya bob berwarna coklat yang
sangat ia kenalin.
“Memang kamulah Vanya aku gak
habis pikir kadang – kadang buku yang kamu baca ada gunanya juga ya” canda
Meila sambil menyeruput tehnya. Vanya Agustina hanya tersenyum sambil meminum
kopinya.
“Habis dari perpustakaan ya ?”
tanyanya melihat tumpukan buku dibawah meja sebelah kaki Vanya.” Yap ! Seratus
buat kamu ha ha ha” jawabnya sambil berpura-pura tertawa “ yang benar saja
tugas kuliah gak ada habisnya mana bukunya gak lengkap lagi”lanjutnya sambil
menyuap sup jagungnya.
“Tahu gak ? ada yang nempatin
kamar sebelah kamar kita loh” ucap Vanya tiba-tiba. Meila hanya menopang dagu
tersenyum “ oh iya ? siapa ? pasti cewek lagi ?” tanyanya sekedar nimbrung
dalam pembicaraan ini.“Kurang tahu sih, tapi kata Mbak Inah laki – laki”
jawabnya sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Meila hanya tersenyum. Dia tidak
bisa membayangkan siapa dan bagaimana orang yang menempati kamar kost disebelah
kamarnya. Setidaknya pada malam hari tidak menjadi terlalu menakutkan.
“ Aku berani bertaruh laki – laki
ini gak lajang lagi alias udah om – om “gumam Vanya sambil mengelap bibirnya
dengan tissue. Melia mengerenyitkan dahi menatap sahabatnya “ kamukan kuliah di
sastra korea kok mendadak jadi peramal ? “ tanyanya sambil menyeruput tehnya
kembali.
“ Ya ampun Mel bukan apa lho.
Itukan udah fakta yang biasa terjadi “
“ Iyaya deh ikut aja apa kata
kamu. Tapi kalau lajang dan ganteng buat aku ya ? “
“ Enak aja ! aku juga mau kali..
bagi – bagi napa Mel, gitu banget “
Melia masih tersenyum melihat
tingkah teman yang ada di hadapannya ini. Sebenarnya ganteng atau gak juga gak
akan pernah jadi urusan Melia. Itu bukan sebuah jaminan atas keselamatan
dirinya, hanya itu yang Melia tau. “ Penasaran nih.. balik yuk biar jelas dia
om –om atau lajang ganteng yang kita bayangin “ ajaknya tergesa – tergesa
membawa buku dan menarik tangan Melia.
***
Jam
terus berputar tanpa memperdulikan ada atau tidak yang mengejarnya untuk
memintanya berhenti. Udara dingin dan suara rintik hujan cukup mendukung untuk
bermalasan – malasan di tempat tidur. Pelan tapi pasti semua organ tubuh
memberontak jika terlalu lama di biarkan memaksakan mata yang terlelap untuk
terbuka dan melihat jam.
Tangan
yang masih enggan bergerak berusaha bergerak ke udara. Aditya Wiratmaja segera
terbangun ketika melihat jarum panjang di arlojinya. Sadar bahwa tidur
cantiknya harus berhenti dan dia harus segera menelfon seseorang di Bandung.
Dengan sigap jarinya menekan tombol angka 1 dan menunggu jawaban.
“ Astaga
Adit kamu lama sekali ngabarin mama. Kata kamu gak delay tapi kok baru jam
segini kamu nelfon mama, mama khawatir sayang “ Marah perempuan paruh baya yang
membuat Adit tersenyum. “ Maaf ma baru nelfon tadi ketiduran habis capek banget
ma “ jawabnya menenangkan perempuan yang amat di sayanginya.
“ jadi
ini kamu udah di tempat mbak Inahkan ? “
“ udah
ma. Ini lagi di kamar mau beres – beres “
“
iyaudah kamu kamu lanjut lagi ya beres – beresnya. Kalau misalnya ada apa – apa
telfon mama ya “ mintanya dengan suara sedih di ujung sana, Adit tersenyum
mengangguk seakan mamanya ada di hadapannya.
Sebenarnya
bukan tanpa alasan mamanya begitu khawatir terhadap dirinya dan bukan juga
bukan karena dia anak mama. Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang
paling baik dan inilah alasannya. Mama Adit takut jika terjadi hal yang sama
dengan Almarhum abangnya dulu. Pengalaman yang
membuat seluruh keluarganya hancur dan kecewa sekaligus sedih kepada
abangnya. Dan itu mengajarkan Adit untuk menjadi dewasa.
Setelah
telfonnya putus Adit melangkahkan kaki keluar kamar. Menurutnya tidak sopan
tida memperkenalkan diri atau setidaknya dia perlu adaptasi dengan suasana
sekitar. Saat membuka pintu layaknya seorang drakula yang takut terkena cahaya
mata Adit terasa sakit ketika melihat cahaya lampu. Segera ia menutup pintu
kamarnya baru ia sadar bahwa dia hidup layaknya di dalam gua, tanpa penerangan.
Baru
saja Adit akan menghidukan lampu dia mendengar suara perempuan yang mengomel
dalam bahasa yang bercampur membuat Adit penasaran dan segera membuka pintu.
***
Melia
yang baru sampe di rumah mbak Inah harus terima sambutan yang cukup membuatnya
menyesal menggunakan earphone yang membuatnya tergelincir dan mendaratkan
bokongnya di lantai.“ aduh neng kan udah mbak panggil dari tadi jangan lewat
dulu “ mbak Inah membantu Melia berdiri. “ A..aw gak papa kok mbak.. salah Mel
gak denger, Mel langsung kamar ya mbak “ ucapnya sambil berusaha berjalan ke
kamar menahan sakit di bokonnya.
Dengan
perlahan Melia menaiki tangga sambil menggigit bibir. Melia tidak mungkin
manggil Vanya lagi yang kamarnya ada di daerah blok B teras belakang. “
Earphone sialan lo. Damn ! God this is very hurt !. untung Cuma mbak Inah yang
liat kalo gak sumpah gue malu. Shit ! “. Dengan terus mengumpat Melia mencoba
membuka pintunya namun dia di kagetkan dengan suara pintu yang terbuka di
belakangnya. Dalam sekejap badan Melia mendadak pucat.
“
Excuse me..”tanya laki – laki di belakangnya namun Melia tidak berani
menjawabnya takut – takut itu bukan sesuatu ataupun seseorang yang ia kira. “
Maaf.. kamu gak.. gilakan ?” tanyanya lagi dan berhasil membuat Melia panas. “
GILA ?! LO PIKIR GUE GILA ?! DALAM HAL APA LO NUDUH GUE GILA ?”tanya Melia
berapi – api sambil menunjuk laki – laki tinggi, berkulit putih, yang rambutnya
agak acak – acakan ala orang baru bangun tidur dan brewokan yang sedang
melihatnya bingung dan kaget.
“
Sepele aja sih.. pertama elo tadi bicara dengan dua bahasa yang menurut gue
amburadul parah dan elo ngomong sama pintu. Kedua elo gue panggil gak nyaut dan
spesialnya gue panggil pake dua bahasa lagi. Kalah – kalah martabak telor gue
buat” jawab Adit santai sambil menurunkan jari gadis di depannya ang sedang
berapi – api nyaris mau terbakar.
“ emang
dasar penguntit lo ya… buat lo tau gue gak ngomong sama pintu ! “
“ nah
terus tadi ngapain ngumpat gak jelas sambil ngadep pintu ? “
“gue
lagi buka kunci kamar gue, lo gak liat kuncinya ?!” ucapnya sambil menunjuk
gagang pintu. Aditpun ikut melirik namun alisnya terangkat heran sambil tertawa
kecil.
“ elo
emang sakit… ampe gunung rata lagi sama tanah juga gak bakal kebuka kali “ Adit
memgang kedua pundak Melia dan memutar badannya. “ nah.. see ? now can you say
sorry to me ?” tanya Adit sambil tersenyum menang. Mata Melia terbelalak
melihat gagang pintu yang tidak ada kuncinya.
Wajah Melia terasa panas entah
dia mau marah lagi atau malu karena sudah memarahi om – om yang ada di
belakangnya sekarang. Dengan enggan Melia membalikkan badan menghadap om itu
namun tangannya mencari kunci di tas.
Adit
masih tersenyum geli melihat tingkah
gadis yang telah dia permalukan. Setidaknya Adit hanya ingin balas dendam
setelah di bentak gak jelas oleh orang yang gak di kenalanya sama sekali
apalagi cewek itu udah cukup membuatnya jengkel. “ oke, gue minta maaf ya om “
seketika senyum Adit menghilang setelah mendengar kalimat pertama dari mulut
gadis itu.
“ gue
maksudnya aku tau aku salah… mungkin karena aku kesel tadi om jadi ampe lupa”
“ apa
elo.. “
“ iya
aku tau om bahasa inggrisku amburadul. Om dosen ya ? maaf ya om.. sekarang om
bisa balik ke kamar dan ….”
“
bentar ! elo manggil apa gue barusan ? “
“ gak
salahkan om ? “ tanya Melia polos sambil tangannya berusaha membuka kunci pintu
kamarnya. “ nah udah ya om saya minta maaf maaf banget ya ya ya ? daa om. Salam
kenal “ ucapnya tersenyum simpul sambil masuk ke dalam kamar dan mengunci
pintunya meninggalkan laki – laki yang berhasil di buatnya terpelongok akibat
kata – katanya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar