Senin, 30 Desember 2013

3 bulan untuk SELAMANYA

Lagi – lagi gadis itu hanya melamun.  Hujan malam ini membuat secangkir teh hangat menjadi pilihan paling tepat. Meila Hanafi hanya mengaduk tehnya sambil memandang keluar jendela. Memperhatikan setiap tetes hujan yang jatuh ke bumi. “ Kamu tahu melamun itu bisa membuat seseorang menjadi gampang latah “ ucap seseorang yang berhasil menarik perhatian Meila. Meila memperhatikan gadis berkacamata dan model rambutnya bob berwarna coklat yang sangat ia kenalin.
“Memang kamulah Vanya aku gak habis pikir kadang – kadang buku yang kamu baca ada gunanya juga ya” canda Meila sambil menyeruput tehnya. Vanya Agustina hanya tersenyum sambil meminum kopinya.
“Habis dari perpustakaan ya ?” tanyanya melihat tumpukan buku dibawah meja sebelah kaki Vanya.” Yap ! Seratus buat kamu ha ha ha” jawabnya sambil berpura-pura tertawa “ yang benar saja tugas kuliah gak ada habisnya mana bukunya gak lengkap lagi”lanjutnya sambil menyuap sup jagungnya.
“Tahu gak ? ada yang nempatin kamar sebelah kamar kita loh” ucap Vanya tiba-tiba. Meila hanya menopang dagu tersenyum “ oh iya ? siapa ? pasti cewek lagi ?” tanyanya sekedar nimbrung dalam pembicaraan ini.“Kurang tahu sih, tapi kata Mbak Inah laki – laki” jawabnya sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Meila hanya tersenyum. Dia tidak bisa membayangkan siapa dan bagaimana orang yang menempati kamar kost disebelah kamarnya. Setidaknya pada malam hari tidak menjadi terlalu menakutkan.
“ Aku berani bertaruh laki – laki ini gak lajang lagi alias udah om – om “gumam Vanya sambil mengelap bibirnya dengan tissue. Melia mengerenyitkan dahi menatap sahabatnya “ kamukan kuliah di sastra korea kok mendadak jadi peramal ? “ tanyanya sambil menyeruput tehnya kembali.
“ Ya ampun Mel bukan apa lho. Itukan udah fakta yang biasa terjadi “
“ Iyaya deh ikut aja apa kata kamu. Tapi kalau lajang dan ganteng buat aku ya ? “
“ Enak aja ! aku juga mau kali.. bagi – bagi napa Mel, gitu banget “
Melia masih tersenyum melihat tingkah teman yang ada di hadapannya ini. Sebenarnya ganteng atau gak juga gak akan pernah jadi urusan Melia. Itu bukan sebuah jaminan atas keselamatan dirinya, hanya itu yang Melia tau. “ Penasaran nih.. balik yuk biar jelas dia om –om atau lajang ganteng yang kita bayangin “ ajaknya tergesa – tergesa membawa buku dan menarik tangan Melia.

***
                Jam terus berputar tanpa memperdulikan ada atau tidak yang mengejarnya untuk memintanya berhenti. Udara dingin dan suara rintik hujan cukup mendukung untuk bermalasan – malasan di tempat tidur. Pelan tapi pasti semua organ tubuh memberontak jika terlalu lama di biarkan memaksakan mata yang terlelap untuk terbuka dan melihat jam.
                Tangan yang masih enggan bergerak berusaha bergerak ke udara. Aditya Wiratmaja segera terbangun ketika melihat jarum panjang di arlojinya. Sadar bahwa tidur cantiknya harus berhenti dan dia harus segera menelfon seseorang di Bandung. Dengan sigap jarinya menekan tombol angka 1 dan menunggu jawaban.
                “ Astaga Adit kamu lama sekali ngabarin mama. Kata kamu gak delay tapi kok baru jam segini kamu nelfon mama, mama khawatir sayang “ Marah perempuan paruh baya yang membuat Adit tersenyum. “ Maaf ma baru nelfon tadi ketiduran habis capek banget ma “ jawabnya menenangkan perempuan yang amat di sayanginya.
                “ jadi ini kamu udah di tempat mbak Inahkan ? “
                “ udah ma. Ini lagi di kamar mau beres – beres “
                “ iyaudah kamu kamu lanjut lagi ya beres – beresnya. Kalau misalnya ada apa – apa telfon mama ya “ mintanya dengan suara sedih di ujung sana, Adit tersenyum mengangguk seakan mamanya ada di hadapannya.
                Sebenarnya bukan tanpa alasan mamanya begitu khawatir terhadap dirinya dan bukan juga bukan karena dia anak mama. Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling baik dan inilah alasannya. Mama Adit takut jika terjadi hal yang sama dengan Almarhum abangnya dulu. Pengalaman yang  membuat seluruh keluarganya hancur dan kecewa sekaligus sedih kepada abangnya. Dan itu mengajarkan Adit untuk menjadi dewasa.
                Setelah telfonnya putus Adit melangkahkan kaki keluar kamar. Menurutnya tidak sopan tida memperkenalkan diri atau setidaknya dia perlu adaptasi dengan suasana sekitar. Saat membuka pintu layaknya seorang drakula yang takut terkena cahaya mata Adit terasa sakit ketika melihat cahaya lampu. Segera ia menutup pintu kamarnya baru ia sadar bahwa dia hidup layaknya di dalam gua, tanpa penerangan.
                Baru saja Adit akan menghidukan lampu dia mendengar suara perempuan yang mengomel dalam bahasa yang bercampur membuat Adit penasaran dan segera membuka pintu.

***
                Melia yang baru sampe di rumah mbak Inah harus terima sambutan yang cukup membuatnya menyesal menggunakan earphone yang membuatnya tergelincir dan mendaratkan bokongnya di lantai.“ aduh neng kan udah mbak panggil dari tadi jangan lewat dulu “ mbak Inah membantu Melia berdiri. “ A..aw gak papa kok mbak.. salah Mel gak denger, Mel langsung kamar ya mbak “ ucapnya sambil berusaha berjalan ke kamar menahan sakit di bokonnya.
                Dengan perlahan Melia menaiki tangga sambil menggigit bibir. Melia tidak mungkin manggil Vanya lagi yang kamarnya ada di daerah blok B teras belakang. “ Earphone sialan lo. Damn ! God this is very hurt !. untung Cuma mbak Inah yang liat kalo gak sumpah gue malu. Shit ! “. Dengan terus mengumpat Melia mencoba membuka pintunya namun dia di kagetkan dengan suara pintu yang terbuka di belakangnya. Dalam sekejap badan Melia mendadak pucat.
                “ Excuse me..”tanya laki – laki di belakangnya namun Melia tidak berani menjawabnya takut – takut itu bukan sesuatu ataupun seseorang yang ia kira. “ Maaf.. kamu gak.. gilakan ?” tanyanya lagi dan berhasil membuat Melia panas. “ GILA ?! LO PIKIR GUE GILA ?! DALAM HAL APA LO NUDUH GUE GILA ?”tanya Melia berapi – api sambil menunjuk laki – laki tinggi, berkulit putih, yang rambutnya agak acak – acakan ala orang baru bangun tidur dan brewokan yang sedang melihatnya bingung dan kaget.
                “ Sepele aja sih.. pertama elo tadi bicara dengan dua bahasa yang menurut gue amburadul parah dan elo ngomong sama pintu. Kedua elo gue panggil gak nyaut dan spesialnya gue panggil pake dua bahasa lagi. Kalah – kalah martabak telor gue buat” jawab Adit santai sambil menurunkan jari gadis di depannya ang sedang berapi – api nyaris mau terbakar.
                “ emang dasar penguntit lo ya… buat lo tau gue gak ngomong sama pintu ! “
                “ nah terus tadi ngapain ngumpat gak jelas sambil ngadep pintu ? “
                “gue lagi buka kunci kamar gue, lo gak liat kuncinya ?!” ucapnya sambil menunjuk gagang pintu. Aditpun ikut melirik namun alisnya terangkat heran sambil tertawa kecil.
                “ elo emang sakit… ampe gunung rata lagi sama tanah juga gak bakal kebuka kali “ Adit memgang kedua pundak Melia dan memutar badannya. “ nah.. see ? now can you say sorry to me ?” tanya Adit sambil tersenyum menang. Mata Melia terbelalak melihat gagang pintu yang tidak ada kuncinya.  Wajah Melia terasa panas  entah dia mau marah lagi atau malu karena sudah memarahi om – om yang ada di belakangnya sekarang. Dengan enggan Melia membalikkan badan menghadap om itu namun tangannya mencari kunci di tas.
                Adit masih tersenyum geli  melihat tingkah gadis yang telah dia permalukan. Setidaknya Adit hanya ingin balas dendam setelah di bentak gak jelas oleh orang yang gak di kenalanya sama sekali apalagi cewek itu udah cukup membuatnya jengkel. “ oke, gue minta maaf ya om “ seketika senyum Adit menghilang setelah mendengar kalimat pertama dari mulut gadis itu.
                “ gue maksudnya aku tau aku salah… mungkin karena aku kesel tadi om jadi ampe lupa”
                “ apa elo.. “
                “ iya aku tau om bahasa inggrisku amburadul. Om dosen ya ? maaf ya om.. sekarang om bisa balik ke kamar dan ….”
                “ bentar ! elo manggil apa gue barusan ? “
                “ gak salahkan om ? “ tanya Melia polos sambil tangannya berusaha membuka kunci pintu kamarnya. “ nah udah ya om saya minta maaf maaf banget ya ya ya ? daa om. Salam kenal “ ucapnya tersenyum simpul sambil masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya meninggalkan laki – laki yang berhasil di buatnya terpelongok akibat kata – katanya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar