Rabu, 15 Januari 2014

Melody of LOVE

Asrama Nurul Asri yang berada di pinggir kota memiliki suasana yang tenang dan udara yang sejuk karena di kelilingi lahan yang belum terjamah manusia. Siswa yang berada di sini lebih dari 1000 orang dan berbeda agama, namun disinilah keunggulannya. Belajar untuk saling menghargai dan menyayangi kepada sesama lewat perbedaan yang ada.
                Setiap siswa di bagi 1 kamar 10 orang dan pastinya tidak pencampuran gender untuk soal itu. Laki – laki ada di gedung sebelah kanan dari gedung perempuan dan gedung ini saling berhadapan. Jangan harap siswa bebas berkeliaran pada saat malam hari !.
                “ Put kamu duluan aja, aku mau ke perpus ambil beberapa buku buat tugas kita “ ucap Sabrina dan di sambut anggukan Putri. Perpustakaan yang berada tidak jauh dari kamar mereka memiliki fasilitas yang cukup untuk membangkitkan semangat para siswa untuk sekedar masuk dan melihat ruangan ini. Rak Pengetahuan sudah menjadi tujuan Sabrina dari Awal. Disapukannya ujung jemarinya mencari judul buku yang ia cari di deretan buku yang tersusun rapi. Sebenarnya bisa saja ia mencari di mesin fiche namun menurutnya itu hanya untuk anak manja.
                “ Lo cari ini ? “ Suara berat itu datang dari arah yang berlawanan mengagetkan Sabrina. Secepat kilat Sabrina menoleh ke arah lawan bicaranya. Ia menyipitkan mata memperhatikan benda yang ada di tangan laki – laki itu. Benar saja itu buku yang di carinya. Sial ! Sabrina mendesah keras . Ia melipat tangan di depan dadanya. Keningnya berkerut dalam hati yang menggerutu dan mengumpat.
                “ lo pasti kesel sama gue kan ? ambil aja ini… gue belum selesai sih Cuma kasihan liat lo nyari gitu kayak nenek bongkok “ ejeknya seraya melempar buku ke arah Sabrina dan jatuh di tepat di depan gadis tinggi itu. Sabrina memungut buku itu, “ Gue gak butuh rasa kasihan dari orang kaya elo tuan Allan dan satu hal yang elo wajib tau hargai buku !” ucapnya tegas seraya meletakkan buku di atas rak “ Elo ambil dan elo kembalikan sesuai urutannya ! “ lanjutnya seraya berlalu meninggalkan laki – laki yang sedang menatapnya heran.
                Dengan sekali hentakan keras Sabrina membuka pintu kamar dan menganggetkan Putri yang sedang menemani Ayu. “ Ancur deh tu pintu kalau Sabrina buka pintu kayak gitu “ ucap Ayu terlebih pada dirinya sendiri “ kali ini Allan ngapain lo lagi ? “ tanyanya sambil menyilangkan kaki  di atas tempat tidur. “ Kamu juga ngapain marah sih Sabrina… cuek aja “ nasehat Putri. Tapi yang di tanya masih diam tak bergeming.
                “ bentar lagi dia pasti nangis…”
                “  Satu…”
                “ Dua…”
                “ Ti…”
                Benar aja gadis itu menangis memeluk guling. Ayu dan Putri hanya bisa tersenyum sedih melihat tingkah gadis yang sedang di alami kegalauan akut. “ yang bener aja gue gak bisa ngelupain dia ! kenapa coba gue dulu nerima dia jadi pacar dia dan gue percaya sama dia !” kesal Sabrina terlebih pada dirinya sendiri.
                “ terus lo mau minta balikkan ?”
                “ bukan gitu ! gue cuma…”
                “ kamu cuma masih merasa penting di dekat dia ?”
                “ gak ! aku gak mikir gitu tapi… “
                Ayu dan Putri mendesah “ cuma rasa sayang ini terlanjur ada, tapi gak mungkin tetap ada di dekatnya karena gak tahan sama sakit dan pahitnya rasa ini “ ucap mereka melanjutkan semua kata – kata Sabrina yang  belum selesai. Sabrina hanya diam. Ia menghapus air matanya dan bersungut kepada kedua sahabatnya “ berhentilah sok kompak buat ngeledekin gue “.

***
                Kelas Mr. Walker adalah kelas yang paling di segani oleh semua murid. Laki – laki yang belum bisa di bilang tua, memiliki gaya bicara inggris yang kental dengan aksen UKnya yang bisa di jamin gak akan mudah di pahami serta model rambutnya yang masih mengikuti zaman membuatnya tak lekang oleh waktu. “ jadi apa kalian telah menyelesaikan  scientific work yang saya berikan minggu lalu ? “ tanyanya dengan aksen inggrisnya. Semua murid diam.
                Pria itu melepas kacamatanya dan mendesah keras “ saya tau… sangat tau ada beberapa yang mengerjakan tugas ini…” matanya melirik ke arah Sabrina, Putri dan Ayu “ tapi mau sampai kapan kalian seperti ini ? kalau begitu… “ kata – katanya terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kelas. Semua perhatian tertuju kearah laki – laki tinggi, bermuka oriental, berambut gelap dan memiliki senyum yang cerah.
                “ Sorry sir… eum saya murid baru dan saya di suruh kemari “ jawabnya yang mengerti akan arti tatapan Mr. Walker yang tidak suka kelasnya di ganggu. Mr. Walker hanya mengangguk dan menunjuk satu kursi di sebelah gadis berambut ikal yang sedang mengetik di laptop kesayangannya dan tidak menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Dengan cepat laki – laki itu menduduki kursi yang telah di tunjuk Mr. Walker.
                “ Hai… gue Dimas” ucapnya pelan seraya meletakkan tasnya di meja.
                “ oh hai Dim.. “ alis gadis itu terangkat.  Dimas hanya tersenyum menunggu lanjutan kata – kata gadis itu “ maaf aku gak inget kalau sebelah aku ada orang ?” tanya gadis itu bingung. Dimas hanya tersenyum membiarkan gadis itu larut dalam kebingungannya sementara dia memperhatikan laki – laki yang sedang berbicara di depan kelas.

***
                Jari – jari itu menari indah di atas tuts piano. Menciptakan alunan melody yang dalam dan membuat siapapun tau bahwa pemilik jari indah itu sedang bersedih. Semua bayangan Rehan berkelebat dalam benaknya. Rasa nyeri di dadanya semakin membuatnya ingin membunuh laki – laki yang selama ini ia percayai.
                Nada yang mengalun semakin berantakan. Ayu memukul tuts – tuts piano kesal. Entah kenapa semua rasanya salah bahkan lagu beethoven kesukaannya juga salah ia mainkan saat ini. Ia mengepalkan tangannya dan menangis tanpa suara. Sebuah tanda tanya besar yang tertinggal membuat dadanya terasa sesak. “ Ayu ? “ panggil seseorang. Dengan sekali gerak Ayu melihat laki – laki yang ada dalam bayangannya keluar dan menjadi nyata.
                Ayu melihat kilatan rasa bersalah dalam mata coklat laki – laki itu.
                “ aku tau… kemarin kejadian yang… gak bisa kamu maafin…”
                Bagus kalau lo tau dan sekarang pergi !
                “ aku gak akan pergi sebelum kamu maafin… aku – aku masih sayang sama kamu “
                Gak akan pernah dan gak akan terjadi walaupun lo sujud !
                Rehan berlutut di depan Ayu “ apa yang harus aku lakukan yu…”
                Ayu membelalakan matanya. Apa laki – laki ini mampu mendengar isi hatinya. Ayu menggigit bibir menahan air mata yang siap meluncur dan membuatnya terlihat lemah. “ Yu tolong bicara… aku butuh jawaban… “ lanjut Rehan yang menjawab pertanyaan Ayu.  “ aku tau aku bukan perempuan yang kamu inginkan dari awal… aku.. aku hanya pelampiasan “ Ucap Ayu membuat Rehan menahan nafasnya. Merasa Rehan tidak akan menyangkal Ayu melanjutkan. “ pelampiasan dari segala rasa gengsi karena gadis yang sebenarnya kamu incar udah ada yang lain “.
                Ayu mengepalkan tangannya berjaga – jaga kalau Rehan berbuat kurang ajar. Ayu melirik laki – laki yang masih berlutut di depannya. Mata coklat itu menatap matanya lurus – lurus seperti mencari kata maaf untuk dirinya. “ sekarang pergilah !” minta Ayu.
                “ tapi Yu… aku… aku “
                “ pergi ! tolong kalau elo masih sayang sama gue !”
                Rehan mengangguk pelan dan pergi dengan enggannya. Ayu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengejar dan memeluk laki – laki itu. Perasaan lega membanjiri dirinya. Ia melepaskan nafas yang sedari tadi Ia tahan ketika laki – laki itu menghilang.

***
                Cahaya lembut matahari yang menembus jendela besar menambah kedamaian kelas yang sedang di tinggal penghuninya untuk mengisi kelas lain. Gadis itu sibuk dengan novel yang membuatnya tidak sadar ada seseorang yang berusaha menarik dirinya dari dunia khayalan.
                “ Putri ? “ ucap seseorang menyentuh pundaknya lembut dan membuat gadis yang di maksud terkejut. “ eum maaf aku.. aku gak denger “ ucapnya salah tingkah memandangi laki – laki tinggi yang sedang tersenyum padanya “ aku yang minta maaf udah ganggu kamu aku cuma mau tanya tentang biola.. “. “ kamu menemui orang yang tepat “ ucap Putri bangga.
                “ aku tahu… dan sangat tahu “ gurau laki – laki itu. Putri tertawa namun seketika tawanya hilang dan menatap laki – laki itu bingung “ sebentar… kita gak pernah sekelaskan ? kamu siapa ? “.
                Laki – laki itu hanya tertawa. Putri terdiam melihat laki – laki itu tertawa. Mungkin matanya mulai salah melihat seolah – olah laki itu di penuhi effect yang menyilaukan matanya. Jantungnya mulai ikut tidak beres. Putri memegang dadanya takut – takut jantungnya lepas.

                “ jadi kamu bener – bener gak denger ? aku Galih dari asrama 2 “ jawabnya mengulurkan tangan. Dengan segera Putri menyambut uluran tangan itu. “ aku baru semester ini aja ambil kelas musik makanya aku ada disini”. Putri hanya mengangguk dan masih sibuk dengan pikirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar