“ Bukan itu yang ingin aku katakan bukan
itu ! babo ! “ geram seseorang samar
seraya menangis. Hujan tidak membuatnya berteduh seperti yang lain. Dingin yang
menusuk badannya tidak di perdulikannya. Yang ia tau hanya menghilangkan rasa
sakitnya.“ elo gak boleh kayak gini ! “ ucap seorang gadis tinggi yang berdiri
di sampingnya. Perlahan Ayu menoleh melihat kedua sahabatnya memandanginya sedih
bercampur takut.
“
masuklah. Gue akan nyusul bentar lagi “ mintanya sambil memalingkan wajah.
“
kita gak akan masuk tanpa kamu yu… kamu sakit kita juga harus sakit “ ucap
Putri lembut duduk di depan Ayu.
Ayu
terdiam mengigit bibir bawahnya “ gue lagi pengen sendiri.. kali ini gue minta
kalian ikut mau gue dan gue janji gue gak akan macem – macem “ lanjutnya.
Putri
mengalihkan pandanya kearah Sabrina berharap ikut membujuk Ayu. Sabrina menarik
tangan Putri untuk berdiri “Don’t be
forced again. This is not our right “ gumamnya masih memandangi gadis
berkepang dua itu. “but ... he could be
sick. Did you forget about her disease? “ tanya Putri khawatir.
“
Kalo elo gak balik dalam 10 menit, piano lo gue bakar “ ancam Sabrina.
“
dan kalo elo gak pergi dari sekarang laptop lo gue buang “ balas Ayu dingin.
Sabrina
tersenyum. “see? we had to trust her “ lanjutnya memegang pundak Putri. Putri
ikut tersenyum benar kata Sabrina, mungkin mereka memang harus pelan tapi pasti
mempercayai Ayu dengan kesalahan di masa lalunya. Kedua gadis itu meninggalkan
Ayu sendiri.
“
gue pikir gue gak akan pernah dapet momen kayak gini “ ucap seseorang yang
berhasil membuat Ayu terkejut. Laki –
laki jangkung yang sedang berdiri sambil memayungi dirinya itu seseorang yang
sangat tidak dia harapkan dan moodnya semakin hancur. “ Gio.. gue minta dengan
sangat elo pergi deh “ ucap Ayu cuek. “ gak akan… walaupun kita musuhan dari
zaman dinosaurus gue masih peka terhadap cewek gak terkecuali…“ kata – katanya terhenti
ia jongkok di samping Ayu “ elo. Yah selama elo cewek walapun gue kesel
setengah mampus. “ lanjutnya.
Ayu
hanya diam berusaha untuk tidak menanggapi ucapan laki – laki yang sedang ada
di sampingnya membiarkan hujan membuat suasana di sekitarnya sedikit tenang. “
cukup kuat juga elo ya duduk di bawah pohon dalam hujan deres kayak gini… gue
salut “ gumam Gio samar tapi masih terdengar jelas untuk Ayu. “ emang sikap
keras kepala lo ini yang selalu buat gue kalah “ lanjutnya sambil memainkan
payung.
“
mau lo apa sih dateng kemari ? mau kasihani gue ? gue gak butuh ! “ ucap Ayu
kesel seraya meninggalkan Gio namun kalah cepat dengan genggaman tangan Gio. “
gak. Gue kemari gak pengen kasihani lo, gak ada untungnya juga “ bantahnya
santai seraya memasukkan tangan kanannya ke saku celananya.
“
trus ? lo mau apa ? jangan macem – macem lo di sini atau gak… “ sambil
menunjukkan kepalan tangan kanannya ke arah Gio.
Laki
– laki itu hanya tertawa sambil tertawa menurunkan kepalan tangan Ayu
“
elo salah makan obat ya ? gak ada yang lucu !”
“
elo yang lucu. Dari dulu. Cuma elo yang bisa buat gue seneng “
Ayu
terdiam. Wajahnya terasa memanas seketika mendengar ucapan aneh Gio. Ayu memandangi
laki – laki yang selama ini dibencinya namun tidak bisa ia pungkiri Gio
menemaninya selama ini sebelum Rehan datang. “ dasar playboy. mulut manis lo gak
bakal mempan sama gue “ ejek Ayu sambil senderan di batang pohon memeluk
tubuhnya sendiri. “ sebaiknya elo masuk… ini udah hampir 10 menit, bisa – bisa piano
lo di bakar sama siapa si.. Sabrina “ kata – kata Gio mengingatkan Ayu soal
ancaman Sabrina. “ Astaga gue lupa ! “ ucapnya seraya meninggalkan Gio namun
lagi – lagi di tahan Gio dan menarik Ayu kedalam pelukannya. Ayu yang
kaget hanya terdiam dalam pelukan laki – laki itu. Hangat hanya itu yang ia
tau.
“
sampe kamar elo mandi dan tidur. Jangan bandel. Dan lupain Rehan, tolong “
pinta Gio lembut dan terdengar samar namun semua itu jelas untuk Ayu walau
hujan sederas apapun.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar