Senin, 30 Desember 2013

Melody of LOVE

“ Bukan itu yang ingin aku katakan bukan itu ! babo ! “ geram seseorang samar seraya menangis. Hujan tidak membuatnya berteduh seperti yang lain. Dingin yang menusuk badannya tidak di perdulikannya. Yang ia tau hanya menghilangkan rasa sakitnya.“ elo gak boleh kayak gini ! “ ucap seorang gadis tinggi yang berdiri di sampingnya. Perlahan Ayu menoleh melihat kedua sahabatnya memandanginya sedih bercampur takut.
                “ masuklah. Gue akan nyusul bentar lagi “ mintanya sambil memalingkan wajah.
                “ kita gak akan masuk tanpa kamu yu… kamu sakit kita juga harus sakit “ ucap Putri lembut duduk di depan Ayu.
                Ayu terdiam mengigit bibir bawahnya “ gue lagi pengen sendiri.. kali ini gue minta kalian ikut mau gue dan gue janji gue gak akan macem – macem “ lanjutnya.

                Putri mengalihkan pandanya kearah Sabrina berharap ikut membujuk Ayu. Sabrina menarik tangan Putri untuk berdiri “Don’t be forced again. This is not our right “ gumamnya masih memandangi gadis berkepang dua itu. “but ... he could be sick. Did you forget about her disease? “ tanya Putri khawatir.
                “ Kalo elo gak balik dalam 10 menit, piano lo gue bakar “ ancam Sabrina.
                “ dan kalo elo gak pergi dari sekarang laptop lo gue buang “ balas Ayu dingin.
                Sabrina tersenyum. “see? we had to trust her “ lanjutnya memegang pundak Putri. Putri ikut tersenyum benar kata Sabrina, mungkin mereka memang harus pelan tapi pasti mempercayai Ayu dengan kesalahan di masa lalunya. Kedua gadis itu meninggalkan Ayu sendiri.

                “ gue pikir gue gak akan pernah dapet momen kayak gini “ ucap seseorang yang berhasil membuat Ayu terkejut.  Laki – laki jangkung yang sedang berdiri sambil memayungi dirinya itu seseorang yang sangat tidak dia harapkan dan moodnya semakin hancur. “ Gio.. gue minta dengan sangat elo pergi deh “ ucap Ayu cuek. “ gak akan… walaupun kita musuhan dari zaman dinosaurus gue masih peka terhadap cewek gak terkecuali…“ kata – katanya terhenti ia jongkok di samping Ayu “ elo. Yah selama elo cewek walapun gue kesel setengah mampus. “ lanjutnya.

                Ayu hanya diam berusaha untuk tidak menanggapi ucapan laki – laki yang sedang ada di sampingnya membiarkan hujan membuat suasana di sekitarnya sedikit tenang. “ cukup kuat juga elo ya duduk di bawah pohon dalam hujan deres kayak gini… gue salut “ gumam Gio samar tapi masih terdengar jelas untuk Ayu. “ emang sikap keras kepala lo ini yang selalu buat gue kalah “ lanjutnya sambil memainkan payung.
                “ mau lo apa sih dateng kemari ? mau kasihani gue ? gue gak butuh ! “ ucap Ayu kesel seraya meninggalkan Gio namun kalah cepat dengan genggaman tangan Gio. “ gak. Gue kemari gak pengen kasihani lo, gak ada untungnya juga “ bantahnya santai seraya memasukkan tangan kanannya ke saku celananya.
                “ trus ? lo mau apa ? jangan macem – macem lo di sini atau gak… “ sambil menunjukkan kepalan tangan kanannya ke arah Gio.
                Laki – laki itu hanya tertawa sambil tertawa menurunkan kepalan tangan Ayu
                “ elo salah makan obat ya ? gak ada yang lucu !”
                “ elo yang lucu. Dari dulu. Cuma elo yang bisa buat gue seneng “
                Ayu terdiam. Wajahnya terasa memanas seketika mendengar ucapan aneh Gio. Ayu memandangi laki – laki yang selama ini dibencinya namun tidak bisa ia pungkiri Gio menemaninya selama ini sebelum Rehan datang. “ dasar playboy. mulut manis lo gak bakal mempan sama gue “ ejek Ayu sambil senderan di batang pohon memeluk tubuhnya sendiri. “ sebaiknya elo masuk… ini udah hampir 10 menit, bisa – bisa piano lo di bakar sama siapa si.. Sabrina “ kata – kata Gio mengingatkan Ayu soal ancaman Sabrina. “ Astaga gue lupa ! “ ucapnya seraya meninggalkan Gio namun lagi – lagi di tahan Gio dan menarik Ayu kedalam pelukannya. Ayu yang kaget hanya terdiam dalam pelukan laki – laki itu. Hangat hanya itu yang ia tau.
                “ sampe kamar elo mandi dan tidur. Jangan bandel. Dan lupain Rehan, tolong “ pinta Gio lembut dan terdengar samar namun semua itu jelas untuk Ayu walau hujan sederas apapun.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar