Payung putih itu selalu ada di taman setiap kali hujan
datang. Gadis itu hanya melamun, seperti menunggu sesuatu tapi tidak pernah
datang. Hujan seperti menggambarkan hatinya. Sabrina yakin laki-laki itu pasti
datang menemuinya walaupun sudah 3 tahun lamanya ia menunggu.
“Berhentilah untuk menunggu sesuatu
yang tidak akan pernah datang”ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan
gadis itu. “aku… aku tidak menunggunya. Aku hanya malas dirumah. “jawabnya
sambil tersenyum kecil kepada laki-laki jangkung yang sedang memperhatikan
dengan kacamatnya.
“kau mencoba membodohiku ? haha
tidak berhasil”.
“aku tidak membodohimu, sungguh aku
memang bosan dirumah”.
“Aku bukan anak kecil yang akan
percaya begitu saja dengan omonganmu. Keponakanku lebih pintar daripada dirimu
ternyata”.
Sabrina tertawa kecil namun dia
tidak bisa mengelak lagi. Trian memang bukan baru mengenal dia 1 hari, 1 bulan,
bahkan 1 minggu. Mereka sudah selayaknya abang dan adik yang saling membantu
dan menyayangi satu sama lain. Trian hanya bisa menghela nafasnya sambil
memutar-mutar payungnya “ sampai kapan seperti ini ? gak capek apa, selalu kamu
yang menelfoninnya meminta maafnya padahal kamu gak salah. Sekarang kamu malah
menunggunya dan berharap dia berubah. Sampai bumi ini balik ke zaman dinosaurus
lagi pun gak akan mungkin”.
“Setidaknya aku sudah bersikap
sebagai seorang kekasih. Aku tidak perduli tentang harga diriku sebagai
perempuan, mungkin dia senang menjadi ‘perempuan’ yang selalu dibujuk salah
atau tidak salah dirinya”. Sabrina diam merasa air matanya akan mengalir “ dan
jika aku menunggunya sekarang… aku
menunggu jawaban tentang diriku” lanjutnya.
“ Jadi setelah 3 tahun, kalian
masih gantung ?”tebak Trian memandang Sabrina berharap tebakannya salah ternyata
Sabrina mengangguk dan tersenyum. Trian tertawa kecil mengacak rambut adik
kelasnya ini “aku ingin menjulukimu si bodoh tapi kamu gak sebodoh itu. Kamu
tahu bahwa kasih sayang itu harus tulus , tapi lagi-lagi kamu yang harus
sengsara karena cinta”.
“Cinta itu seperti cuaca. Ketika cuacanya
hangat ,mampu menghangatkan siapapun tapi ketika cuacanya dingin… itu mampu
juga membuat siapapun pergi”.
Trian hanya tertegun mendengar
kata-kata Sabrina. Entah apa yang ada dipikiran Andik sehingga dia tega memperlakukan
adiknya seperti ini. Berjuta pertanyaan berputar mengelilingi otaknya, apa
alasan Andik ? wanita lain, udah bosan, atau adik ku yang berkhianat ? gak
mungkin.
“Jika aku jadi Andik mungkin aku
akan terus bersyukur telah mendapatkan perempuan sepertimu. Yang selau
perhatian, menanyakan kabar, perduli tentang hubungan kita dan diriku dan
selalu cemburu walau sebenarnya gak perlu cemburu” Trian diam memperhatikan
Sabrina yang mulai menangis “ Andik bodoh” lanjutnya. Sabrina hanya diam,
hatinya terasa seperti dicengkram seperti disadarkan bahwa sikapnya itu banyak
dinilai posesif.
“Kalau aku mati nanti cuacanya
hujan, kamu mau panggil pawang hujan suruh bikin cerah ?”
“Ngapain manggil pawang hujan,
Andik datang hujannya udah lari” Trian terdiam “ tapi aku tidak akan membiarkan
laki-laki itu mendekati makammu bahkan gerbang pemakaman.”
“Biarkan aja dia datang. Biar dia lihat
batu nisan ku dan sadar bahwa gak ada
lagi perempuan yang akan menelfoninnya, mengganggunya dan mengusiknya”.
Setelah itu hanya ada suara hujan
yang terdengar. Trian tahu seharusnya dia tidak menanggapi permintaan adiknya
itu, tapi jika Trian pun diposisinya mati adalah cara terbaik untuk
menghilangkan sakit hati karena terjatuh di lubang yang sama.
“Tapi aku masih percaya bahwa masih
ada laki-laki sebaik dirimu yang masih butuh perempuan seperti aku” ucap
Sabrina yang membuat Trian tersenyum “ suatu penghargaan buatku”.
Ini adalah kisahku. Dimana aku hanya selalu merasakan pahit disetiap
perbuatanku yang berharap balasan yang indah.
Tuhan jika ini yang terbaik buatku tolong mudah kan buatku…aku mencintainya…biarkan dia tersenyum tanpa aku di hidupnya. Terima kasih atas waktu-waktu terindah dalam hidupku sebelum aku pergi dan menutup mataku.
Tuhan jika ini yang terbaik buatku tolong mudah kan buatku…aku mencintainya…biarkan dia tersenyum tanpa aku di hidupnya. Terima kasih atas waktu-waktu terindah dalam hidupku sebelum aku pergi dan menutup mataku.
This is just for you
Mr. 2325
nice (y) :)
BalasHapusmakasi udah datang dan baca ;)
Hapusya sama sama zafira , :) , hafiz senang bisa membacanya.
BalasHapus