Selasa, 01 Oktober 2013

Rain

Payung putih itu selalu ada di taman setiap kali hujan datang. Gadis itu hanya melamun, seperti menunggu sesuatu tapi tidak pernah datang. Hujan seperti menggambarkan hatinya. Sabrina yakin laki-laki itu pasti datang menemuinya walaupun sudah 3 tahun lamanya ia menunggu.
“Berhentilah untuk menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang”ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan gadis itu. “aku… aku tidak menunggunya. Aku hanya malas dirumah. “jawabnya sambil tersenyum kecil kepada laki-laki jangkung yang sedang memperhatikan dengan kacamatnya.
“kau mencoba membodohiku ? haha tidak berhasil”.
“aku tidak membodohimu, sungguh aku memang bosan dirumah”.
“Aku bukan anak kecil yang akan percaya begitu saja dengan omonganmu. Keponakanku lebih pintar daripada dirimu ternyata”.
Sabrina tertawa kecil namun dia tidak bisa mengelak lagi. Trian memang bukan baru mengenal dia 1 hari, 1 bulan, bahkan 1 minggu. Mereka sudah selayaknya abang dan adik yang saling membantu dan menyayangi satu sama lain. Trian hanya bisa menghela nafasnya sambil memutar-mutar payungnya “ sampai kapan seperti ini ? gak capek apa, selalu kamu yang menelfoninnya meminta maafnya padahal kamu gak salah. Sekarang kamu malah menunggunya dan berharap dia berubah. Sampai bumi ini balik ke zaman dinosaurus lagi pun gak akan mungkin”.
“Setidaknya aku sudah bersikap sebagai seorang kekasih. Aku tidak perduli tentang harga diriku sebagai perempuan, mungkin dia senang menjadi ‘perempuan’ yang selalu dibujuk salah atau tidak salah dirinya”. Sabrina diam merasa air matanya akan mengalir “ dan jika aku menunggunya sekarang…  aku menunggu jawaban tentang diriku” lanjutnya.
“ Jadi setelah 3 tahun, kalian masih gantung ?”tebak Trian memandang Sabrina berharap tebakannya salah ternyata Sabrina mengangguk dan tersenyum. Trian tertawa kecil mengacak rambut adik kelasnya ini “aku ingin menjulukimu si bodoh tapi kamu gak sebodoh itu. Kamu tahu bahwa kasih sayang itu harus tulus , tapi lagi-lagi kamu yang harus sengsara karena cinta”.
“Cinta itu seperti cuaca. Ketika cuacanya hangat ,mampu menghangatkan siapapun tapi ketika cuacanya dingin… itu mampu juga membuat siapapun pergi”.
Trian hanya tertegun mendengar kata-kata Sabrina. Entah apa yang ada dipikiran Andik sehingga dia tega memperlakukan adiknya seperti ini. Berjuta pertanyaan berputar mengelilingi otaknya, apa alasan Andik ? wanita lain, udah bosan, atau adik ku yang berkhianat ? gak mungkin.
“Jika aku jadi Andik mungkin aku akan terus bersyukur telah mendapatkan perempuan sepertimu. Yang selau perhatian, menanyakan kabar, perduli tentang hubungan kita dan diriku dan selalu cemburu walau sebenarnya gak perlu cemburu” Trian diam memperhatikan Sabrina yang mulai menangis “ Andik bodoh” lanjutnya. Sabrina hanya diam, hatinya terasa seperti dicengkram seperti disadarkan bahwa sikapnya itu banyak dinilai posesif.
“Kalau aku mati nanti cuacanya hujan, kamu mau panggil pawang hujan suruh bikin cerah ?”
“Ngapain manggil pawang hujan, Andik datang hujannya udah lari” Trian terdiam “ tapi aku tidak akan membiarkan laki-laki itu mendekati makammu bahkan gerbang pemakaman.”
“Biarkan aja dia datang. Biar dia lihat batu nisan ku dan sadar  bahwa gak ada lagi perempuan yang akan menelfoninnya, mengganggunya dan mengusiknya”.
Setelah itu hanya ada suara hujan yang terdengar. Trian tahu seharusnya dia tidak menanggapi permintaan adiknya itu, tapi jika Trian pun diposisinya mati adalah cara terbaik untuk menghilangkan sakit hati karena terjatuh di lubang yang sama.
“Tapi aku masih percaya bahwa masih ada laki-laki sebaik dirimu yang masih butuh perempuan seperti aku” ucap Sabrina yang membuat Trian tersenyum “ suatu penghargaan buatku”.


Ini adalah kisahku. Dimana aku hanya selalu merasakan pahit disetiap perbuatanku yang berharap balasan yang indah.
Tuhan jika ini yang terbaik buatku tolong mudah kan buatku…aku mencintainya…biarkan dia tersenyum tanpa aku di hidupnya. Terima kasih atas waktu-waktu terindah dalam hidupku  sebelum aku pergi dan menutup mataku.
This is just for you

Mr. 2325

3 komentar: